MALANG – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di SD Negeri Kauman 1 Kota Malang masih belum kembali disalurkan hampir sebulan setelah puluhan siswa mengalami gangguan kesehatan usai mengonsumsi makanan MBG pada Juli 2026.
Kepala SDN Kauman 1, Sentot Hariyanto, mengatakan sejak kejadian tersebut tidak ada lagi distribusi MBG dari SPPG Sukoharjo 1, yang sebelumnya menjadi pemasok makanan untuk sekolah tersebut. SPPG itu diketahui mendapat penghentian sementara atau suspend setelah muncul kasus keracunan.
Sentot mengatakan pihak sekolah juga belum memperoleh kepastian mengenai kapan program tersebut kembali berjalan. Menurutnya, belum ada tindak lanjut resmi dari Badan Gizi Nasional (BGN) maupun pihak SPPG terkait kelanjutan distribusi MBG di sekolah.
Puluhan Siswa Sempat Mengalami Gangguan Kesehatan
Kasus tersebut terjadi pada akhir Juli 2026. Sehari setelah menerima makanan MBG, sejumlah siswa tidak masuk sekolah karena mengalami keluhan seperti diare dan muntah.
Pihak sekolah mencatat sekitar 35 siswa tidak masuk dan mengalami gangguan kesehatan. Sementara berdasarkan penelusuran puskesmas, terdapat sekitar 50 siswa yang dilaporkan sakit, meskipun makanan yang dikonsumsi para siswa tidak seluruhnya sama.
Satgas MBG Kota Malang kemudian melakukan pemeriksaan terhadap sampel makanan yang dikonsumsi para siswa. Hasil uji laboratorium sebelumnya menunjukkan olahan telur mengandung bakteri Escherichia coli (E. coli) di atas ambang batas, sedangkan sampel makanan lainnya dinyatakan normal.
Berdasarkan data Satgas MBG Kota Malang, SDN Kauman 1 memiliki 538 siswa penerima manfaat, dengan 33 siswa tercatat mengalami keracunan dalam kasus tersebut. Distribusi makanan sebelumnya berasal dari SPPG Sukoharjo 1, Kecamatan Klojen.
Orang Tua Mulai Dimintai Pendapat
Selama penghentian distribusi MBG, pihak sekolah juga menerima berbagai tanggapan dari orang tua siswa. Ada wali murid yang masih mendukung keberlanjutan program, tetapi ada pula yang mempertanyakan keamanan makanan setelah kejadian sebelumnya.
Untuk mengetahui sikap orang tua, sekolah kemudian menyebarkan kuesioner melalui Google Form pada Senin (21/9/2026). Dari sekitar 500 penerima manfaat yang menjadi sasaran pendataan, sekitar 20% wali murid sementara menyatakan belum menyetujui kelanjutan MBG.
Namun, hasil tersebut belum menjadi keputusan final karena proses pengisian kuesioner masih berlangsung. Sebagai sekolah negeri, SDN Kauman 1 juga tidak dapat mengambil keputusan secara sepihak.
Hasil penjaringan aspirasi nantinya akan dikoordinasikan dengan Dinas Pendidikan dan satuan tugas MBG untuk menentukan langkah selanjutnya.
Sekolah Tetap Terbuka Menerima MBG
Meski sempat terjadi kasus keracunan, pihak SDN Kauman 1 menyatakan pada prinsipnya masih siap menerima program MBG apabila kembali dijalankan.
Sekolah bahkan telah menyiapkan ruangan yang nantinya dapat digunakan untuk penyaluran makanan. Namun, pihak sekolah meminta adanya perbaikan kualitas makanan, tata kelola dapur, serta komunikasi antara penyedia MBG dengan sekolah.
Sentot juga mengatakan sekolah belum menerima laporan tertulis secara langsung mengenai hasil penanganan kasus sebelumnya. Informasi yang diterima lebih banyak disampaikan melalui pertemuan dengan pihak terkait.
Sekolah berharap jika MBG kembali disalurkan, standar keamanan pangan benar-benar diperhatikan sehingga kejadian serupa tidak terulang.
Sumber: detikJatim