Rupiah Melemah, BI Siapkan Jurus Jaga Nilai Tukar



JAKARTA – Nilai tukar rupiah kembali mendapat tekanan terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Kondisi tersebut membuat Bank Indonesia (BI) terus menyiapkan sejumlah langkah untuk menjaga stabilitas nilai tukar di tengah ketidakpastian ekonomi global.

Berdasarkan data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) BI, rupiah pada 24 September 2026 berada di level Rp17.898 per dolar AS, melemah dibandingkan posisi Rp17.803 pada 23 September 2026.

Gubernur BI menyatakan bank sentral akan terus mengoptimalkan berbagai instrumen yang dimiliki untuk meredam tekanan terhadap rupiah. Strategi tersebut dilakukan melalui intervensi di pasar valuta asing sekaligus kebijakan untuk menjaga aliran modal asing tetap masuk ke Indonesia.

BI Siapkan Intervensi di Pasar Valas

Salah satu instrumen utama yang digunakan BI adalah intervensi di pasar valuta asing. BI mengoptimalkan transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar luar negeri serta transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik.

Langkah tersebut merupakan bagian dari kebijakan stabilisasi nilai tukar ketika terjadi tekanan yang berasal dari kondisi global maupun domestik.

Dalam keputusan Rapat Dewan Gubernur 22-23 September 2026, BI menegaskan stabilisasi rupiah masih menjadi salah satu fokus kebijakan moneter. BI juga mempertahankan BI-Rate di level 5,75%, Deposit Facility 4,75%, dan Lending Facility 6,50%.

BI menyebut keputusan tersebut diambil dengan mempertimbangkan tekanan eksternal yang masih kuat. Kondisi pasar keuangan global masih menghadapi ketidakpastian, sementara perubahan kebijakan moneter negara-negara besar dapat memengaruhi pergerakan arus modal dan nilai tukar negara berkembang.

Aliran Modal Asing Jadi Perhatian

Selain melakukan intervensi, BI juga berupaya menarik dan mempertahankan aliran modal asing ke pasar keuangan domestik.

BI memperluas kebijakan insentif yang ditujukan untuk meningkatkan investasi portofolio asing. Langkah tersebut diharapkan dapat membantu memperkuat stabilitas pasar keuangan sekaligus meningkatkan pasokan valuta asing di dalam negeri.

Hingga 21 September 2026, aliran investasi portofolio asing pada kuartal III 2026 tercatat net inflow US$0,4 miliar. Aliran tersebut antara lain ditopang penerbitan global bond pemerintah serta masuknya dana ke Surat Berharga Negara (SBN).

BI juga mencatat cadangan devisa Indonesia pada akhir Agustus 2026 masih berada di level US$146,5 miliar. Posisi tersebut setara dengan pembiayaan sekitar 5,4 bulan impor atau 5,3 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, sehingga berada di atas standar kecukupan internasional sekitar tiga bulan impor.

Tekanan Global Masih Tinggi

Pelemahan rupiah tidak terlepas dari kondisi ekonomi global yang masih penuh ketidakpastian. BI mencatat meningkatnya kembali tensi di Timur Tengah turut mendorong kenaikan harga minyak dunia.

Harga minyak bahkan sempat mencapai sekitar US$132 per barel sebelum kembali turun ke bawah US$100 per barel pada 22 September 2026.

Di sisi lain, kebijakan moneter Amerika Serikat juga menjadi salah satu faktor yang diperhatikan pasar. BI mencatat Federal Funds Rate (FFR) berada pada kisaran 3,75%-4,00% pada September 2026.

Perubahan suku bunga AS dapat memengaruhi pergerakan dana global karena investor akan mempertimbangkan kembali tingkat imbal hasil aset di berbagai negara.

Fundamental Ekonomi Tetap Jadi Penopang

Meski rupiah berada di bawah tekanan, BI menyatakan akan terus menjaga stabilitas dengan mempertimbangkan kondisi fundamental ekonomi Indonesia.

Pada September 2026, BI memperkirakan pertumbuhan ekonomi global masih relatif lemah, sekitar 3,0%. Sementara itu, tekanan inflasi global diperkirakan meningkat menjadi sekitar 4,6%.

Dari sisi domestik, BI juga terus memperkuat ketahanan eksternal. Neraca perdagangan Indonesia pada Juli 2026 tercatat surplus sekitar US$0,12 miliar, setelah pada bulan sebelumnya mengalami defisit US$0,45 miliar.

Pemerintah dan BI juga sepakat memperkuat koordinasi kebijakan fiskal dan moneter untuk menghadapi ketidakpastian global. Koordinasi tersebut mencakup penguatan sektor eksternal, pengelolaan likuiditas, pengendalian inflasi, serta pendalaman pasar keuangan.

Dengan berbagai langkah tersebut, BI memperkirakan pergerakan rupiah tetap dapat dijaga dengan dukungan kebijakan stabilisasi, imbal hasil yang menarik, inflasi yang terkendali, serta prospek ekonomi domestik.

Namun, perkembangan nilai tukar masih akan sangat dipengaruhi dinamika ekonomi global, terutama kondisi pasar keuangan internasional, harga komoditas, kebijakan bank sentral negara maju, dan perkembangan geopolitik.

BI menegaskan akan terus mengoptimalkan seluruh instrumen moneter untuk menjaga stabilitas rupiah sekaligus mendukung perekonomian nasional.

Sumber: CNN Indonesia

Lebih baru Lebih lama

Tag Terpopuler