PROBOLINGGO – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Gunung Bromo, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur, menelan enam korban jiwa. Korban terakhir bernama Suraji (40), petugas keamanan Artotel Bromo, meninggal dunia pada Jumat (23/10/2026) setelah menjalani perawatan intensif selama sembilan hari akibat luka bakar serius.
Suraji sempat mendapatkan perawatan di RSUD Tongas sebelum dirujuk ke RSUD Dr. Soetomo Surabaya. Meski telah menjalani operasi cangkok kulit dan mendapatkan penanganan medis intensif, kondisinya terus memburuk hingga akhirnya meninggal dunia.
Direktur RSUD Tongas, dr. Catur Prangga Wadana, menjelaskan bahwa para korban rata-rata mengalami luka bakar luas lebih dari 50 persen pada tubuh. Cedera saluran pernapasan akibat menghirup udara panas dan asap turut memperberat kondisi mereka.
Enam Orang Gugur Saat Memadamkan Api
Peristiwa kebakaran tersebut terjadi pada Kamis (15/10/2026) di kawasan perbukitan Desa Ngadirejo, Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo. Enam orang terjebak ketika berupaya membantu memadamkan api yang membakar kawasan tersebut.
Para korban terdiri atas petugas Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (BB TNBTS), karyawan hotel, serta anggota masyarakat yang membantu penanganan kebakaran. Sebelum Suraji, Munawi lebih dahulu meninggal dunia pada 19 Oktober 2026 setelah menjalani perawatan intensif.
Empat korban lainnya adalah Sukaris, Hendra Rony Wagiyanata, Sefril Ardiansyah, dan Wisnu Yudha Pratama. Seluruh korban mengalami luka bakar serius dalam insiden tersebut.
Pemerintah Sampaikan Belasungkawa
Pemerintah Provinsi Jawa Timur menyampaikan duka mendalam atas meninggalnya para korban. Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak menyatakan bahwa para korban telah mendapatkan penanganan medis secara maksimal, dengan biaya pengobatan ditanggung pemerintah.
Kepolisian juga mengingatkan pentingnya keselamatan dan kewaspadaan petugas dalam menangani kebakaran hutan. Evaluasi penanganan karhutla diperlukan agar kejadian serupa tidak kembali menimbulkan korban jiwa.
Tragedi ini menjadi pengingat bahwa upaya pemadaman kebakaran hutan memiliki risiko besar, terutama ketika api meluas dan kondisi lapangan sulit dikendalikan. Penguatan prosedur keselamatan serta koordinasi antarpihak menjadi hal penting dalam penanganan karhutla di kawasan Gunung Bromo.
Sumber: detikJatim
