Relawan Menyerah Padamkan Karhutla Tanjung Puting, Minta Water Bombing

 

KALIMANTAN TENGAH – Tim relawan gabungan penanggulangan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Taman Nasional Tanjung Puting, Kalimantan Tengah, memutuskan menarik sementara personelnya dari kegiatan pemadaman. Keputusan tersebut diambil setelah upaya di lapangan dinilai belum menunjukkan hasil signifikan, sementara kemampuan relawan semakin terbatas.

Tim yang terdiri dari Yayasan Orangutan Hijau Kalimantan (YOHK) dan Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) Kotawaringin Barat itu mendesak pemerintah segera meningkatkan penanganan kebakaran, termasuk mengerahkan helikopter untuk melakukan water bombing atau pemadaman melalui udara.

Perwakilan relawan, Moncos, menyampaikan bahwa para relawan telah berupaya memadamkan api selama berhari-hari dengan tenaga dan peralatan yang tersedia. Namun, luasnya wilayah terdampak serta keterbatasan dukungan membuat upaya pemadaman secara langsung semakin sulit dilakukan.

Menurut Moncos, relawan membutuhkan langkah konkret untuk menangani titik-titik api yang berada di zona inti kawasan konservasi. Pemadaman dari darat dinilai belum cukup untuk mengendalikan kebakaran yang terus mengancam kawasan hutan.

Ia juga menyebut perkiraan luas kawasan terdampak mencapai sekitar 54 ribu hektare. Namun, angka tersebut masih berupa perkiraan dan belum dapat dipastikan sebagai luas lahan yang benar-benar terbakar.

Pemadaman dari udara terkendala asap

Di sisi lain, upaya pemadaman melalui udara juga menghadapi kendala. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyatakan rendahnya jarak pandang akibat asap menghambat operasi helikopter untuk melakukan water bombing.

Kondisi tersebut memperumit penanganan kebakaran karena tim di lapangan membutuhkan dukungan tambahan untuk menjangkau titik api yang sulit diakses melalui jalur darat.

Relawan berharap pemerintah pusat dapat segera memperkuat koordinasi, menambah dukungan logistik, serta menyiapkan strategi pemadaman yang sesuai dengan kondisi lapangan. Penanganan juga dinilai perlu mempertimbangkan keselamatan petugas dan relawan yang bekerja di tengah ancaman api serta asap tebal.

Habitat orangutan ikut terancam

Kebakaran di Taman Nasional Tanjung Puting menjadi perhatian karena kawasan tersebut merupakan habitat penting bagi orangutan dan berbagai satwa liar lainnya. Kerusakan hutan akibat kebakaran berpotensi mengurangi ruang hidup satwa sekaligus mengganggu keseimbangan ekosistem.

Selain berdampak terhadap lingkungan, kabut asap dari karhutla di wilayah Kotawaringin Barat juga mengganggu aktivitas masyarakat. Pemerintah daerah menyebut asap telah memengaruhi kesehatan, pelayanan publik, kegiatan ekonomi, hingga penerbangan di Bandara Iskandar Pangkalan Bun yang dilaporkan mengalami pembatalan.

Bupati Kotawaringin Barat, Nurhidayah, mendesak pemerintah pusat memberikan bantuan tambahan berupa personel, peralatan, dan sarana pemadaman untuk menghadapi kebakaran yang semakin mengkhawatirkan.

Penarikan sementara personel relawan bukan berarti ancaman kebakaran telah berakhir. Sebaliknya, kondisi tersebut menjadi peringatan bahwa penanganan karhutla membutuhkan dukungan yang lebih memadai dan koordinasi lintas instansi.

Relawan berharap langkah cepat dapat segera dilakukan agar kebakaran terkendali, dampak kabut asap berkurang, dan kawasan konservasi Tanjung Puting beserta habitat satwa di dalamnya dapat terlindungi.

Sumber: CNN Indonesia



Lebih baru Lebih lama

Tag Terpopuler