PONOROGO – Layanan Cek Kesehatan Gratis (CKG) di Puskesmas Ponorogo Selatan masih minim peminat untuk pemeriksaan mandiri. Sejumlah warga memilih menunda pemeriksaan karena terkendala waktu, merasa tubuhnya sehat, hingga takut mengetahui penyakit yang mungkin diderita.
Kepala Puskesmas Ponorogo Selatan, dr Ani Damayanti, mengatakan kesadaran masyarakat untuk memanfaatkan layanan tersebut masih perlu ditingkatkan. Menurutnya, ada warga yang sudah mendaftar, tetapi tidak datang untuk menjalani pemeriksaan.
Padahal, program CKG bertujuan membantu masyarakat mengetahui kondisi kesehatannya sejak dini, sehingga masalah kesehatan dapat ditangani sebelum berkembang menjadi lebih serius.
Cakupan pemeriksaan CKG di wilayah kerja Puskesmas Ponorogo Selatan telah mencapai sekitar 55 persen. Dari total penduduk sekitar 26.600 jiwa, sebanyak 20.500 orang tercatat sudah menjalani pemeriksaan kesehatan.
Dari jumlah tersebut, lebih dari 11.000 peserta berasal dari kelompok anak sekolah, sedangkan sekitar 9.000 lainnya merupakan masyarakat umum. Pelayanan dilakukan melalui pemeriksaan langsung di puskesmas maupun kegiatan jemput bola ke masyarakat.
Ani menjelaskan, ada beberapa faktor yang membuat warga enggan memeriksakan diri. Selain kesibukan dan keterbatasan waktu, sebagian masyarakat khawatir hasil pemeriksaan menunjukkan adanya penyakit. Ada pula warga yang merasa tidak perlu menjalani pemeriksaan karena tidak mengalami keluhan.
Padahal, sejumlah gangguan kesehatan dapat berkembang tanpa menunjukkan gejala yang jelas pada tahap awal. Karena itu, pemeriksaan rutin penting dilakukan meskipun seseorang merasa sehat.
Hasil pemeriksaan CKG di wilayah tersebut menunjukkan obesitas menjadi salah satu temuan terbanyak. Selain itu, petugas menemukan kasus hipertensi, peningkatan kadar gula darah, serta masalah kesehatan gigi. Hampir 50 persen warga yang diperiksa dilaporkan mengalami gigi berlubang.
Untuk meningkatkan partisipasi, petugas puskesmas melakukan pemeriksaan langsung di sekolah, posyandu, dan sejumlah instansi. Pemeriksaan awal mencakup pengukuran tinggi dan berat badan, pemeriksaan tekanan darah, serta pengecekan gula darah.
Apabila ditemukan indikasi masalah kesehatan yang memerlukan pemeriksaan lebih lanjut, peserta akan diarahkan ke puskesmas untuk mendapatkan penanganan sesuai kebutuhan. Peserta berusia 40 tahun ke atas juga dapat menjalani pemeriksaan rekam jantung atau EKG sesuai ketentuan layanan.
Ani menyebut sekitar 2 persen peserta diperkirakan membutuhkan rujukan ke rumah sakit untuk memperoleh penanganan lanjutan. Sementara itu, masalah kesehatan yang masih dapat ditangani di puskesmas akan mendapatkan pelayanan di fasilitas tersebut.
Pihak puskesmas berharap masyarakat tidak lagi menghindari pemeriksaan karena takut mengetahui kondisi kesehatannya. Mengetahui adanya penyakit bukanlah sesuatu yang perlu ditakuti, melainkan langkah awal untuk menentukan penanganan yang tepat.
Masyarakat pun diimbau memanfaatkan layanan CKG sebagai bagian dari upaya menjaga kesehatan. Dengan deteksi dini dan tindak lanjut yang sesuai, risiko komplikasi dapat dikurangi dan kualitas hidup masyarakat diharapkan semakin baik.
Sumber: detikJati
