JAKARTA – Wakil Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Dradjad Hari Wibowo, mengungkapkan bahwa tekanan inflasi di Indonesia saat ini lebih banyak dipicu persoalan pasokan barang dan kenaikan biaya produksi, bukan semata-mata tingginya permintaan masyarakat.
Pernyataan tersebut disampaikan Dradjad dalam konferensi pers bersama Kepala Badan Pusat Statistik (BPS), Amalia Adininggar Widyasanti, di Jakarta, Senin (12/10/2026). Menurutnya, karakteristik inflasi yang terjadi saat ini cenderung mengarah pada cost-push inflation, yakni kenaikan harga yang dipengaruhi biaya produksi dan keterbatasan pasokan.
Dradjad menjelaskan, ketika ketersediaan barang di pasar terganggu, harga dapat meningkat meskipun permintaan masyarakat tidak mengalami lonjakan signifikan. Karena itu, pemerintah perlu memperhatikan kelancaran distribusi dan ketersediaan barang untuk menjaga stabilitas harga.
Salah satu persoalan yang perlu diantisipasi adalah gangguan rantai pasok, mulai dari proses produksi hingga distribusi ke konsumen. Jika pasokan suatu komoditas berkurang, sementara kebutuhan masyarakat tetap ada, harga barang tersebut berpotensi mengalami kenaikan.
Kondisi ini membuat pengendalian inflasi tidak cukup hanya dilakukan dengan menekan permintaan. Pemerintah juga perlu memastikan produksi berjalan dengan baik, distribusi lancar, serta barang kebutuhan pokok tersedia dalam jumlah memadai di berbagai daerah.
Dradjad menilai, kebijakan pengendalian inflasi perlu diarahkan pada penyelesaian persoalan mendasar di sisi pasokan. Langkah tersebut dinilai penting agar kenaikan harga tidak terus membebani masyarakat dan mengganggu stabilitas ekonomi nasional.
Di sisi lain, pemerintah juga menyoroti anggapan bahwa daya beli masyarakat sedang melemah. Dalam kesempatan yang sama, Dradjad menyatakan bahwa data statistik tidak menunjukkan sinyal pelemahan daya beli secara menyeluruh. Menurutnya, perubahan pola konsumsi masyarakat turut memengaruhi gambaran aktivitas ekonomi.
Ia mencontohkan peningkatan aktivitas di sektor transportasi dan pariwisata serta pertumbuhan transaksi digital. Perubahan tersebut menunjukkan bahwa sebagian konsumsi masyarakat bergeser ke layanan perjalanan, restoran, hotel, dan belanja daring.
Meski demikian, tekanan harga akibat keterbatasan pasokan tetap perlu diwaspadai karena dapat mengurangi kemampuan masyarakat memenuhi kebutuhan sehari-hari, terutama jika kenaikan terjadi pada komoditas penting.
Oleh sebab itu, koordinasi antarlembaga pemerintah diperlukan untuk memantau perkembangan harga, mengidentifikasi daerah yang mengalami kekurangan pasokan, serta memperbaiki distribusi barang dari wilayah produsen ke wilayah konsumen.
Pemerintah berharap penguatan rantai pasok dan ketersediaan barang dapat membantu menjaga stabilitas harga. Dengan demikian, upaya pengendalian inflasi tidak hanya berfokus pada angka statistik, tetapi juga memastikan kebutuhan masyarakat dapat diperoleh dengan harga yang terjangkau.
Sumber: CNN Indonesia
