Teheran, Konflik Amerika Serikat dan Iran kembali memanas setelah militer AS melancarkan serangan baru ke sejumlah sasaran di Iran pada Kamis (30/7) dini hari. Serangkaian ledakan dilaporkan terdengar di beberapa wilayah Iran setelah Washington memutuskan kembali melakukan operasi militer.
Serangan tersebut dilakukan setelah Iran sebelumnya meluncurkan sejumlah rudal balistik ke arah fasilitas militer Amerika Serikat di Yordania. Menurut Komando Pusat AS atau CENTCOM, seluruh rudal Iran yang diarahkan ke pasukan AS berhasil dicegat.
Militer AS kemudian menyatakan telah menyerang puluhan target milik Korps Garda Revolusi Islam Iran atau IRGC. Sasaran yang diserang mencakup pusat komando militer, fasilitas rudal dan drone, serta sejumlah fasilitas pertahanan dan pemantauan di wilayah pesisir.
Washington menyebut operasi tersebut bertujuan mengurangi ancaman terhadap pasukan AS, kapal komersial, serta negara-negara di kawasan Teluk. Serangan ini juga menunjukkan bahwa jeda konflik yang sempat berlangsung kembali runtuh setelah meningkatnya aksi saling serang antara kedua pihak.
Ketegangan juga meluas ke wilayah sekitar Iran. Yordania menyatakan berhasil mencegat lima rudal yang ditembakkan dari Iran. Di Mesir, sebuah kapal penyimpanan gas milik perusahaan Amerika Serikat dilaporkan terkena serangan drone di pelabuhan Damietta.
Situasi tersebut meningkatkan kekhawatiran terhadap stabilitas kawasan Timur Tengah, terutama jalur perdagangan dan energi. Selat Hormuz menjadi salah satu titik yang mendapat perhatian karena sebelum perang berlangsung, jalur tersebut merupakan rute penting bagi sekitar seperlima perdagangan minyak dan gas dunia.
Kembalinya serangan AS terhadap Iran menandai eskalasi terbaru dalam konflik yang telah berlangsung berbulan-bulan. Perkembangan selanjutnya akan menjadi perhatian dunia karena setiap peningkatan konflik berpotensi memberikan dampak terhadap keamanan regional dan pasar energi global.
Sumber: CNN Indonesia