Jakarta, Pemasangan pagar besi tinggi di sejumlah pusat perbelanjaan belakangan menjadi perhatian publik. Kebijakan itu memunculkan berbagai spekulasi di media sosial, mulai dari isu penurunan daya beli masyarakat hingga dugaan meningkatnya ancaman keamanan. Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) pun memberikan penjelasan terkait fenomena tersebut.
Ketua Umum APPBI Alphonzus Widjaja menegaskan pemasangan pagar bukan dilakukan karena kondisi ekonomi yang sedang melemah ataupun meningkatnya gangguan keamanan. Menurutnya, setiap pengelola pusat perbelanjaan memiliki pertimbangan tersendiri dalam mengelola kawasan yang mereka operasikan.
Ia menjelaskan, keberadaan pagar berfungsi untuk mengatur akses kendaraan dan pejalan kaki agar aktivitas di sekitar mal lebih tertib. Selain itu, pembatas tersebut juga membantu pengelola meningkatkan pengawasan terhadap area parkir maupun pintu masuk sehingga operasional pusat perbelanjaan dapat berjalan lebih efektif.
Alphonzus mengatakan tidak semua mal menerapkan kebijakan serupa. Keputusan memasang pagar bergantung pada desain kawasan, tingkat aktivitas pengunjung, serta kebutuhan masing-masing pengelola. Karena itu, masyarakat tidak dapat menyamaratakan kondisi seluruh pusat perbelanjaan.
Penjelasan APPBI sekaligus menepis anggapan bahwa pemasangan pagar merupakan tanda lesunya industri ritel. Menurut Alphonzus, hingga saat ini aktivitas pusat perbelanjaan masih berjalan normal dan pengelola tetap berupaya meningkatkan kenyamanan serta keamanan bagi pengunjung.
Menteri Perdagangan Budi Santoso juga menyampaikan pandangan serupa. Ia menegaskan pemasangan pagar merupakan kebijakan internal masing-masing pengelola mal dan bukan bagian dari arahan pemerintah. Karena itu, menurutnya, publik tidak perlu mengaitkan fenomena tersebut dengan kondisi ekonomi nasional.
Di sisi lain, sejumlah pengelola memilih tetap mempertahankan konsep mal terbuka tanpa pagar tinggi. Mereka mengandalkan kamera pengawas, sistem keamanan digital, serta petugas keamanan untuk menjaga ketertiban dan keselamatan pengunjung.
Fenomena ini menunjukkan bahwa setiap pusat perbelanjaan memiliki strategi pengelolaan yang berbeda. Penggunaan pagar hanyalah salah satu alternatif yang dipilih sebagian pengelola untuk menyesuaikan kebutuhan operasional dan karakteristik kawasan yang mereka kelola.
Sumber: detikFinance.