Banser Siap Awasi Sound Horeg di Jatim



SURABAYA – Fenomena parade sound horeg di Jawa Timur kembali menjadi perhatian. Pimpinan Wilayah Gerakan Pemuda (GP) Ansor Jawa Timur menyatakan siap membantu pemerintah melakukan pengawasan terhadap kegiatan yang menggunakan pengeras suara berdaya tinggi tersebut.

Ketua Ansor Jatim H Musaffa' Safril atau Gus Safril mengatakan pihaknya siap mengerahkan Barisan Ansor Serbaguna (Banser) apabila pemerintah membutuhkan bantuan untuk mengawasi kegiatan sound horeg di berbagai daerah.

Menurutnya, pengawasan diperlukan karena Ansor menerima sejumlah laporan dari masyarakat mengenai dampak yang ditimbulkan oleh penggunaan sound horeg dengan volume sangat keras. Namun, sejumlah laporan tersebut disebut masih perlu diverifikasi lebih lanjut.

"Banser Insya Allah siap untuk membantu pemerintah jika perlu untuk ikut menertibkan. Kami siap mengerahkan Banser untuk mengawasi acara-acara yang melibatkan sound horeg," kata Gus Safril di Surabaya, Jumat (18/9/2026).

Disebut Mirip Diskotek Keliling

Gus Safril menyoroti perkembangan sejumlah kegiatan sound horeg yang menurut laporan yang diterima Ansor tidak hanya berupa pertunjukan musik dengan pengeras suara.

Ia menyebut terdapat laporan mengenai acara yang melibatkan unsur hiburan lain, termasuk sexy dancer dan dugaan konsumsi minuman keras. Karena itu, ia menggambarkan sejumlah kegiatan tersebut sebagai sesuatu yang menyerupai "diskotek keliling".

Pernyataan tersebut merupakan penilaian dan laporan yang disampaikan pihak Ansor berdasarkan informasi yang mereka terima dari lapangan.

Ansor juga menyoroti kegiatan sound horeg yang berlangsung di sekitar permukiman. Menurut Gus Safril, suara dengan volume tinggi dapat mengganggu warga, terutama apabila terdapat orang sakit atau warga yang membutuhkan suasana tenang.

Minta Ada Lokasi Khusus

Ansor Jatim menyatakan tidak menolak keberadaan sound horeg secara keseluruhan. Gus Safril mengatakan kegiatan tersebut tetap dapat dilaksanakan, tetapi perlu diatur agar tidak mengganggu masyarakat.

Salah satu usulan yang disampaikan adalah menyediakan lokasi khusus, seperti lapangan atau area terbuka yang tidak berada di tengah permukiman. Dengan demikian, kegiatan hiburan tetap dapat berlangsung tanpa menimbulkan gangguan terhadap warga yang berada di sepanjang jalur parade.

Menurutnya, persoalan utama bukan semata-mata keberadaan pengeras suara, tetapi bagaimana kegiatan tersebut dilaksanakan dan sejauh mana dampaknya terhadap masyarakat sekitar.

Soroti Waktu Ibadah

Selain persoalan volume suara, Ansor Jatim juga menyoroti waktu penyelenggaraan kegiatan. Gus Safril menyebut pihaknya menerima laporan mengenai sound horeg yang tetap menggunakan pengeras suara dengan volume tinggi ketika memasuki waktu azan.

Ia meminta penyelenggara memperhatikan kondisi lingkungan sekitar, termasuk keberadaan masjid dan musala serta waktu ibadah masyarakat.

Ansor berharap pemerintah daerah bersama aparat terkait dapat melakukan pengawasan sehingga kegiatan sound horeg tetap berjalan dengan memperhatikan ketertiban dan kenyamanan warga.

Pemerintah Diminta Ikut Mengawasi

Gus Safril juga meminta pemerintah Jawa Timur lebih aktif dalam melakukan pengawasan. Menurutnya, Satpol PP dan kepolisian dapat dilibatkan untuk memastikan kegiatan sound horeg berjalan sesuai aturan yang berlaku.

Sebelumnya, Pemprov Jatim memang telah melibatkan Satpol PP untuk melakukan pengawasan terhadap festival sound horeg. Di sisi lain, MUI Jatim juga meminta kepolisian ikut terlibat agar pengawasan dapat berjalan lebih efektif.

Pemerintah sendiri tengah menjadi bagian dari pembahasan mengenai pengaturan penggunaan sound horeg, termasuk wacana pengaturan batas tingkat kebisingan atau desibel.

Dengan adanya rencana pengawasan dari pemerintah dan kesiapan Banser untuk membantu di lapangan, persoalan sound horeg kini menjadi bagian dari pembahasan lebih luas mengenai keseimbangan antara kegiatan hiburan masyarakat dengan ketertiban serta kenyamanan warga.

Sumber: detikJatim

Lebih baru Lebih lama

Tag Terpopuler