Bitcoin Naik, Investor Perlu Perhatikan Hal Ini Sebelum Membeli



JAKARTA – Harga Bitcoin kembali menguat di tengah kondisi pasar aset kripto yang masih bergerak dinamis. Kenaikan harga tersebut membuat sebagian investor kembali mempertimbangkan untuk masuk ke Bitcoin, meski harga yang sudah berada di level tinggi juga menghadirkan risiko tersendiri.

Pergerakan Bitcoin turut menjadi perhatian setelah bank sentral Amerika Serikat atau The Federal Reserve (The Fed) menaikkan suku bunga acuannya sebesar 25 basis poin ke kisaran 3,75%-4% pada September 2026. Meski secara teori kenaikan suku bunga dapat memberi tekanan terhadap aset berisiko, respons Bitcoin setelah keputusan tersebut justru tidak langsung melemah.

Kondisi ini membuat investor perlu lebih berhati-hati, terutama bagi investor yang baru ingin membeli Bitcoin setelah melihat harga mengalami kenaikan.

Jangan Hanya Mengejar Harga

Salah satu hal yang perlu diperhatikan adalah jangan mengambil keputusan hanya karena melihat harga Bitcoin sedang naik. Kenaikan harga dalam waktu singkat dapat memunculkan fenomena fear of missing out atau FOMO, ketika investor merasa harus segera membeli karena khawatir kehilangan peluang keuntungan.

Chief Marketing Officer Indodax, Aloysia Dian, sebelumnya mengingatkan bahwa investor perlu melihat kondisi pasar secara lebih luas dan tidak menjadikan satu faktor sebagai satu-satunya dasar keputusan investasi. Pergerakan Bitcoin juga dapat dipengaruhi kebijakan moneter, likuiditas serta sentimen investor terhadap aset berisiko.

Pahami Risiko Volatilitas

Bitcoin merupakan aset yang pergerakannya dapat berubah cukup cepat. Ketika harga mengalami kenaikan, investor juga perlu memperhitungkan kemungkinan terjadinya koreksi.

Pergerakan terbaru menunjukkan volatilitas tersebut masih tinggi. Pada 18 September 2026, Bitcoin sempat bergerak di atas US$80.000 setelah mengalami kenaikan lebih dari 5%. Pada saat yang sama, kenaikan tersebut juga diikuti aktivitas likuidasi besar-besaran pada posisi perdagangan berleverage.

Karena itu, investor perlu mempertimbangkan kemampuan menanggung kerugian sebelum mengalokasikan dana ke aset kripto.

Jangan Gunakan Dana Kebutuhan Utama

Investor juga perlu memastikan dana yang digunakan untuk membeli Bitcoin bukan dana yang dibutuhkan untuk kebutuhan sehari-hari maupun kebutuhan keuangan dalam waktu dekat.

Strategi investasi sebaiknya disesuaikan dengan profil risiko masing-masing. Investor juga perlu memahami aset yang dibeli, termasuk risiko penurunan harga yang dapat terjadi setelah periode kenaikan.

Selain itu, diversifikasi dapat menjadi salah satu cara untuk menghindari ketergantungan pada satu jenis aset. Dengan demikian, perubahan harga Bitcoin tidak secara langsung menentukan seluruh kondisi portofolio investasi.

Hindari Keputusan karena FOMO

Kenaikan harga Bitcoin sering kali menarik perhatian investor baru. Namun keputusan membeli karena takut tertinggal atau FOMO dapat membuat investor mengabaikan harga beli dan risiko yang sebenarnya.

Investor disarankan memiliki strategi yang jelas sebelum melakukan transaksi, termasuk menentukan besaran dana, jangka waktu investasi dan batas risiko yang sanggup ditanggung.

Dengan harga Bitcoin yang sedang mengalami penguatan, investor tidak hanya perlu melihat potensi kenaikan, tetapi juga mempertimbangkan kemungkinan volatilitas dan perubahan kondisi pasar ke depan.

Sumber: CNN Indonesia, dengan konteks tambahan dari ANTARA dan sumber pasar kripto terkait.

Lebih baru Lebih lama

Tag Terpopuler