JAKARTA – Sejumlah kabar dari pasar saham menjadi perhatian pada perdagangan terbaru. PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA) mendapat tambahan pasokan emas dari PT Freeport Indonesia (PTFI), sementara PT Bayan Resources Tbk (BYAN) kembali dapat melanjutkan kegiatan produksi setelah memperoleh persetujuan perubahan RKAB 2026.
HRTA menjalin kerja sama dengan PTFI melalui Gold Bar Spot Sale and Purchase Agreement untuk membeli emas murni dengan kadar 99,99%. Emas tersebut berbentuk cast bars dengan berat masing-masing 1 kilogram dan diproduksi melalui fasilitas Precious Metal Refinery (PMR) PTFI di Gresik, Jawa Timur.
Pada tahap awal, HRTA telah membeli 50 kilogram emas murni dari Freeport. Emas tersebut kemudian diterima di fasilitas HRTA di Bandung pada 16 September 2026. Kerja sama ini menambah sumber pasokan emas domestik bagi HRTA.
Sebelumnya, HRTA juga telah bekerja sama dengan sejumlah perusahaan pertambangan dan pemurnian emas dalam negeri, termasuk Agincourt Resources yang mengelola Tambang Emas Martabe serta Danusa Tambang Nusantara. Perusahaan juga menjalin kerja sama dengan fasilitas pemurnian Emas Murni Abadi.
Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya HRTA memperkuat rantai pasokan emas dari sumber dalam negeri. Perusahaan menargetkan kapasitas pabrik terintegrasi mencapai 60 ton per tahun, sementara kapasitas refinery ditingkatkan menjadi 30 ton per tahun, dari sebelumnya 18 ton.
BYAN Kembali Produksi
Sementara itu, PT Bayan Resources Tbk (BYAN) mencabut status force majeure pada tiga anak usahanya, yakni Tiwa Abadi (TA), Tanur Jaya (TJ), dan Fajar Sakti Prima (FSP).
Pencabutan dilakukan setelah ketiga perusahaan memperoleh persetujuan lengkap atas perubahan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2026 dari Kementerian ESDM pada 23 September 2026.
Dengan persetujuan tersebut, ketiga anak usaha BYAN dapat kembali menjalankan kewajiban pasokan batu bara berdasarkan Coal Supply Agreement kepada pelanggan. Aktivitas produksi, pengangkutan, dan penjualan batu bara juga dapat dilanjutkan.
Perubahan RKAB tersebut turut memberikan tambahan kuota produksi hingga 20 juta ton. Tambahan kuota ini memberikan ruang produksi yang lebih besar bagi ketiga perusahaan dibandingkan kondisi sebelumnya.
Kabar mengenai aktivitas Freeport dan BYAN tersebut muncul ketika pasar saham Indonesia masih berada dalam tekanan. Pada perdagangan Kamis, 24 September 2026, IHSG ditutup turun 1,20% ke level 6.298,61. Investor asing juga mencatatkan net sell sekitar Rp1,42 triliun di pasar reguler dan sekitar Rp1,49 triliun jika dihitung di seluruh pasar.
Sumber: detikFinance