Erupsi tersebut menyebabkan abu vulkanik menyebar ke sejumlah wilayah dan mengganggu aktivitas penerbangan. Kondisi ini membuat beberapa bandara harus melakukan penyesuaian operasional hingga memperpanjang penutupan sementara demi menjaga keselamatan penerbangan.
Gangguan penerbangan berdampak langsung terhadap maskapai. Sejumlah penerbangan harus ditunda, dialihkan, atau dibatalkan ketika kondisi udara dinilai tidak aman untuk penerbangan. Situasi tersebut membuat maskapai harus menanggung berbagai biaya operasional sekaligus kehilangan potensi pendapatan dari penerbangan yang tidak berjalan.
Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan menyatakan terus melakukan pemantauan dan koordinasi dengan operator penerbangan serta pengelola bandara. Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan keputusan terkait operasional penerbangan tetap mengutamakan faktor keselamatan.
Dampak erupsi juga tidak hanya dirasakan maskapai. Penumpang menghadapi perubahan jadwal perjalanan, sementara bandara terdampak harus menyesuaikan layanan berdasarkan kondisi abu vulkanik di wilayah sekitar.
INACA menilai gangguan yang berlangsung berhari-hari dapat memberikan tekanan lebih besar terhadap kondisi keuangan maskapai. Semakin lama operasional penerbangan terganggu, semakin besar pula potensi kerugian yang harus ditanggung industri penerbangan.
Pemerintah bersama pihak terkait masih memantau perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau dan kondisi abu vulkanik. Operasional penerbangan akan disesuaikan dengan perkembangan situasi serta hasil pemantauan keselamatan penerbangan.
Sumber: CNN Indonesia