JAKARTA – Pemerintah kembali membahas wacana pembentukan badan usaha milik negara (BUMN) khusus sektor tekstil. CEO Danantara sekaligus Menteri Investasi dan Hilirisasi Rosan Roeslani mengatakan pemerintah masih mengkaji bentuk yang paling tepat untuk memperkuat industri tekstil nasional.
Rosan menyebut opsi yang dibahas tidak hanya membentuk perusahaan BUMN baru, tetapi juga mengembangkan perusahaan tekstil milik negara yang sudah ada. Perusahaan yang dinilai masih memiliki potensi dapat diperkuat melalui pembaruan mesin, teknologi, dan peningkatan kapasitas produksi.
Masih Dikaji Pemerintah
Pembentukan BUMN tekstil sebelumnya telah diwacanakan pemerintah sejak awal 2026. Namun, perkembangan terbaru menunjukkan pemerintah masih mempertimbangkan struktur dan model bisnis yang paling sesuai untuk sektor tersebut.
Rosan mengatakan pihaknya melihat terlebih dahulu perusahaan-perusahaan tekstil yang sudah ada. Jika terdapat perusahaan yang memiliki potensi untuk dikembangkan, pemerintah dapat memilih opsi penguatan perusahaan tersebut dibandingkan langsung membuat entitas baru.
Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah meningkatkan kembali daya saing industri tekstil dan produk tekstil (TPT) Indonesia.
Fokus pada Pembaruan Mesin
Salah satu persoalan yang menjadi perhatian pemerintah adalah kondisi mesin produksi industri tekstil yang sudah berusia cukup tua. Karena itu, pembaruan teknologi menjadi salah satu fokus dalam strategi penguatan industri.
Rosan mengatakan bank-bank yang tergabung dalam Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) diarahkan untuk kembali memberikan pembiayaan kepada industri tekstil, terutama untuk kebutuhan peremajaan mesin produksi. Pemerintah juga membahas berbagai insentif, termasuk kemungkinan tax holiday dan tax allowance.
Danantara juga menyiapkan gagasan mengenai kawasan khusus yang mengintegrasikan industri tekstil dari sektor hulu hingga hilir. Integrasi tersebut diharapkan dapat meningkatkan efisiensi produksi sekaligus memperkuat daya saing produk tekstil Indonesia.
Industri Tekstil Dinilai Masih Punya Potensi
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan pemerintah tidak mengategorikan industri tekstil sebagai sektor yang sudah tidak memiliki prospek. Pemerintah justru mendorong reinvestasi dan penambahan modal kerja agar industri tersebut dapat berkembang.
Saat ini industri TPT disebut menyerap sekitar 4 juta tenaga kerja dan memberikan kontribusi sekitar 0,97% terhadap PDB Indonesia. Tingkat utilisasi pabrik tekstil juga berada di kisaran 75%, sehingga masih terdapat ruang untuk meningkatkan produksi.
Pemerintah juga tengah membahas berbagai persoalan yang selama ini memengaruhi industri tekstil, mulai dari bahan baku, harmonisasi tarif, impor, pembiayaan, hingga restrukturisasi perusahaan.
Dengan berbagai langkah tersebut, pemerintah ingin memperkuat industri tekstil dari hulu sampai hilir sekaligus meningkatkan kemampuan sektor tersebut dalam menyerap tenaga kerja dan memperluas pasar ekspor. Namun, bentuk akhir pembentukan atau penguatan BUMN tekstil masih dalam tahap pembahasan pemerintah.
Sumber: CNN Indonesia