JAKARTA — Badan Pusat Statistik (BPS) mengungkap sejumlah komoditas yang menjadi pemicu inflasi Indonesia pada September 2026. Harga cabai rawit, cabai merah, daging ayam ras hingga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi menjadi beberapa faktor yang memberikan tekanan terhadap harga konsumen.
BPS mencatat inflasi September 2026 mencapai 0,30% secara bulanan (month-to-month/mtm). Sementara secara tahunan, inflasi berada di level 3,28%, meningkat dibandingkan Agustus 2026 yang sebesar 3,19%. Secara kumulatif sejak awal tahun, inflasi mencapai 2,17%.
Dari sejumlah komoditas penyumbang inflasi, cabai rawit menjadi salah satu yang paling dominan. Komoditas tersebut memberikan andil inflasi sebesar 0,08%, disusul cabai merah sebesar 0,06% dan daging ayam ras sebesar 0,05%.
Kenaikan harga cabai terjadi seiring kondisi pasokan yang mengalami tekanan di sejumlah daerah. Faktor cuaca dan kondisi produksi turut memengaruhi ketersediaan komoditas tersebut di pasar.
Selain cabai, beras, telur ayam ras, ikan segar, dan kangkung juga ikut memberikan andil terhadap inflasi September. Kondisi ini menunjukkan bahwa pergerakan harga bahan pangan masih menjadi salah satu faktor penting dalam perubahan inflasi nasional.
Tekanan harga juga datang dari sektor energi. BBM nonsubsidi mengalami penyesuaian harga pada September 2026. Beberapa jenis BBM seperti Pertamax Turbo, Dexlite, dan Pertamina Dex tercatat mengalami kenaikan harga.
BPS mencatat kelompok makanan, minuman, dan tembakau mengalami inflasi sebesar 0,88% dan memberikan andil cukup besar terhadap inflasi bulanan. Sementara komponen harga bergejolak atau volatile food mengalami inflasi 1,46% dan menjadi salah satu sumber utama tekanan harga pada September.
Kenaikan harga BBM nonsubsidi juga berpotensi memberikan dampak terhadap biaya transportasi dan kegiatan usaha. Dengan demikian, tekanan inflasi September tidak hanya berasal dari pangan, tetapi juga dari perkembangan harga energi.
Secara tahunan, kelompok makanan, minuman, dan tembakau mengalami inflasi 4,37%. Perkembangan harga pangan dan energi menjadi bagian yang terus dipantau karena berpengaruh terhadap daya beli masyarakat serta biaya distribusi barang.
Dengan inflasi tahunan mencapai 3,28%, BPS mencatat perkembangan harga pada September 2026 masih dipengaruhi oleh kombinasi pergerakan harga pangan dan energi.
Sumber: CNN Indonesia dan Badan Pusat Statistik (BPS).