Dua Korban Karhutla Bromo Luka Bakar di Atas 50 Persen

 


SURABAYA – Dua korban luka bakar akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), Kabupaten Probolinggo, dirujuk ke RSU dr Soetomo Surabaya untuk mendapatkan penanganan medis intensif. Keduanya mengalami luka bakar serius dengan tingkat luka mencapai lebih dari 50 persen. 

Bupati Probolinggo Muhammad Haris menyampaikan bahwa kedua korban sebelumnya mendapatkan penanganan awal di RSUD Tongas sebelum akhirnya dirujuk ke Surabaya pada Kamis (15/10/2026) malam.

Peristiwa karhutla tersebut menelan empat korban jiwa dan menyebabkan dua orang lainnya mengalami luka bakar. Para korban merupakan bagian dari kelompok yang berupaya membantu memadamkan kebakaran di kawasan Bromo.

Berdasarkan informasi awal, sekitar 12 orang yang terdiri atas petugas Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, anggota Masyarakat Peduli Api, dan karyawan hotel berangkat menuju lokasi kebakaran sekitar pukul 09.00 WIB.

Namun, sekitar pukul 13.30 WIB, sejumlah orang menerima informasi bahwa rekan mereka meminta pertolongan karena terjebak kobaran api dan kepulan asap tebal. Saat dilakukan pencarian, enam orang ditemukan menjadi korban, dengan tiga orang awalnya dinyatakan meninggal dunia dan tiga lainnya mengalami luka bakar. Jumlah korban meninggal kemudian bertambah menjadi empat orang.

Kebakaran terjadi di kawasan Pusung Lingker, Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo, pada Kamis (15/10/2026). Kondisi vegetasi yang kering dan angin kencang diduga mempercepat penyebaran api hingga membahayakan orang-orang yang berada di lokasi.

Pemerintah Kabupaten Probolinggo menyatakan akan membantu menanggung biaya pengobatan korban yang masih menjalani perawatan. Pemerintah daerah juga berkoordinasi dengan pihak terkait untuk memastikan para korban memperoleh penanganan medis yang diperlukan.

Sementara itu, kepolisian masih menyelidiki penyebab kebakaran dan rangkaian kejadian yang mengakibatkan jatuhnya korban jiwa. Tim penyidik telah melakukan olah tempat kejadian perkara serta mengumpulkan keterangan saksi untuk memastikan kronologi peristiwa tersebut.

Tragedi ini menjadi pengingat akan tingginya risiko penanganan karhutla, terutama di kawasan dengan vegetasi kering dan kondisi angin yang dapat berubah cepat. Keselamatan petugas dan relawan perlu menjadi prioritas dalam setiap upaya pemadaman kebakaran.

Sumber: detikJatim




Lebih baru Lebih lama

Tag Terpopuler