SURABAYA – KH Asep Saifuddin Chalim atau Kiai Asep meminta Saifullah Yusuf alias Gus Ipul untuk meminta maaf kepada seluruh warga Nahdlatul Ulama (NU) menyusul polemik yang terjadi dalam pelaksanaan Muktamar ke-35 NU di Jombang, Jawa Timur. Menurut Kiai Asep, permintaan maaf diperlukan untuk meredakan ketegangan dan memulihkan suasana organisasi.
Dalam pemberitaan detikJatim, Kiai Asep menyampaikan bahwa sejumlah persoalan mencuat selama pelaksanaan muktamar, termasuk tuduhan mengenai praktik suap atau risywah serta dugaan penyekapan. Ia berharap persoalan tersebut dapat diakui dan diselesaikan agar tidak kembali terulang pada kegiatan organisasi berikutnya. <Cite refs={["turn202277search0"]}/>
Kiai Asep menilai permintaan maaf merupakan salah satu langkah untuk mengembalikan kondusivitas di lingkungan NU. Ia meminta Gus Ipul, yang menjadi ketua panitia pelaksana muktamar, menyampaikan permintaan maaf atas nama panitia kepada warga NU.
Menurut pengasuh Pondok Pesantren Amanatul Ummah tersebut, persoalan yang muncul perlu disikapi secara terbuka. Ia menekankan pentingnya pengakuan terhadap kesalahan apabila memang terbukti terjadi, disertai komitmen untuk memperbaiki keadaan.
Kiai Asep juga mengingatkan bahwa NU merupakan organisasi besar yang seharusnya menjunjung tinggi integritas, penegakan hukum, serta komitmen untuk membangun kehidupan masyarakat yang adil. Ia menyamakan praktik suap dengan korupsi dan menilai dugaan penyekapan sebagai persoalan serius yang tidak boleh diabaikan.
Di sisi lain, Gus Ipul sebelumnya menyatakan akan menempuh jalur hukum terhadap tiga pihak yang dinilai melontarkan tuduhan mengenai dugaan suap dan aliran dana korupsi dalam Muktamar ke-35 NU. Langkah tersebut diambil setelah somasi yang dilayangkan tidak mendapat tanggapan sesuai harapannya. Gus Ipul meminta pihak-pihak yang menyampaikan tuduhan tersebut membuktikan pernyataannya. <Cite refs={["turn202277search0","turn202277search2","turn202277search4"]}/>
Muktamar ke-35 NU sendiri berlangsung di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, pada 27–31 Agustus 2026. Meski rangkaian kegiatan telah berakhir, polemik mengenai pelaksanaannya masih menjadi perhatian sejumlah tokoh dan warga NU.
Perbedaan sikap antara Kiai Asep dan Gus Ipul memperlihatkan bahwa penyelesaian polemik muktamar tidak hanya berkaitan dengan persoalan hukum, tetapi juga menyangkut upaya menjaga hubungan antarwarga organisasi. Kiai Asep mendorong permintaan maaf untuk meredakan ketegangan, sedangkan Gus Ipul menekankan pentingnya pertanggungjawaban atas tuduhan yang disampaikan.
Hingga kini, tuduhan mengenai suap dan penyekapan tersebut perlu dibedakan dari fakta yang telah terbukti secara hukum. Penyelesaian melalui mekanisme yang transparan diharapkan dapat memberikan kejelasan sekaligus menjaga kepercayaan warga terhadap organisasi.
Sumber: detikJatim,
Tags
jatim
