Pelabuhan Ketapang Berbenah, Bersiap Jadi Gerbang Hijau Nusantara

 


BANYUWANGI – Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi, Jawa Timur, mulai bertransformasi menjadi gerbang penyeberangan yang lebih modern, nyaman, dan ramah lingkungan. Revitalisasi infrastruktur dilakukan untuk memperkuat konektivitas Jawa-Bali sekaligus meningkatkan kualitas pelayanan bagi pengguna jasa penyeberangan.

Dikutip dari detikJatim, Rabu (14/10/2026), perubahan terlihat pada fasilitas umum pelabuhan, mulai dari ruang tunggu yang lebih nyaman, area yang ditata lebih asri, hingga kemudahan akses menuju dermaga. Digitalisasi layanan tiket juga menjadi bagian dari upaya meningkatkan kenyamanan penumpang, termasuk wisatawan domestik dan mancanegara. 

Direktur Utama PT ASDP Indonesia Ferry (Persero), Heru Widodo, mengatakan revitalisasi pada 2026 difokuskan pada Dermaga Ponton Ketapang dan Dermaga II Gilimanuk, Bali. Peningkatan ini ditujukan untuk memperkuat keandalan infrastruktur serta memungkinkan pelayanan kapal dengan kapasitas lebih besar.

Kapasitas Dermaga Ditingkatkan

Salah satu perubahan utama dilakukan pada Dermaga Ponton Ketapang. Sebelumnya, dermaga tersebut memiliki kapasitas beban 10 ton dan melayani kapal hingga 500 Gross Register Tonnage (GRT). Setelah ditingkatkan, dermaga direncanakan memiliki kapasitas beban 60 ton dan mampu melayani kapal hingga 5.000 GRT.

Peningkatan serupa juga dilakukan pada Dermaga II Gilimanuk. Kapasitas beban yang sebelumnya 30 ton ditingkatkan menjadi 60 ton, sedangkan kemampuan melayani kapal ditargetkan naik dari 2.000 GRT menjadi 5.000 GRT.

Modernisasi ini diharapkan membuat pengaturan sandar kapal dan proses bongkar muat kendaraan menjadi lebih fleksibel. Dengan begitu, operasional penyeberangan dapat berjalan lebih efektif, terutama ketika terjadi peningkatan mobilitas masyarakat dan distribusi logistik.

Tantangan Antrean Kendaraan Masih Membayangi

Meski revitalisasi dilakukan, persoalan antrean kendaraan di lintasan Ketapang-Gilimanuk masih menjadi tantangan. Pengamat Transportasi Laut dan Penyeberangan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Profesor Raja Oloan Saut Gurning, menilai peningkatan fasilitas yang ada belum cukup untuk menjadi solusi permanen apabila tidak disertai pengembangan kapasitas sistem secara menyeluruh.

Menurut Saut, terdapat sekitar 54–56 kapal yang terdaftar melayani lintasan Ketapang-Gilimanuk. Namun, kapasitas dermaga efektif disebut hanya mampu mengoperasikan sekitar 27–28 kapal per hari.

Ketimpangan tersebut menunjukkan bahwa persoalan penyeberangan bukan semata-mata berkaitan dengan jumlah kapal. Kapasitas dermaga, keterbatasan ruang tunggu kendaraan, serta pola kedatangan kendaraan yang tidak merata turut memengaruhi kelancaran layanan.

Saut menilai penambahan dermaga aktif dan perluasan kantong parkir perlu menjadi bagian dari solusi jangka panjang. Tanpa pembenahan tersebut, peningkatan kapasitas kapal berpotensi belum memberikan hasil maksimal ketika kendaraan datang dalam jumlah besar secara bersamaan.

Menuju Pelabuhan Ramah Lingkungan

Transformasi Pelabuhan Ketapang juga diarahkan pada penerapan konsep Green Port atau pelabuhan ramah lingkungan. Konsep ini tidak hanya berfokus pada penampilan fasilitas yang lebih hijau, tetapi juga mencakup pengurangan emisi, efisiensi energi, pengelolaan limbah, dan perlindungan ekosistem perairan.

Saut menjelaskan bahwa penerapan konsep tersebut membutuhkan langkah menyeluruh, termasuk dekarbonisasi operasional kapal, penggunaan energi secara efisien di kawasan pelabuhan, serta pengendalian pencemaran.

Tantangan utama terletak pada tingginya aktivitas kapal dan kendaraan bermotor di kawasan penyeberangan. Karena itu, upaya memperbaiki kualitas lingkungan harus berjalan beriringan dengan peningkatan kapasitas dan kualitas pelayanan.

Digitalisasi juga menjadi bagian penting dari transformasi tersebut. Sistem tiket digital dan integrasi data penumpang dinilai dapat membantu meningkatkan ketertiban serta validitas data perjalanan. Namun, kemudahan penggunaan sistem tetap perlu diperhatikan agar tidak menyulitkan pengemudi angkutan logistik, komuter, maupun pengguna jasa yang belum terbiasa dengan teknologi digital.

Layani Ribuan Kendaraan Setiap Hari

Pelabuhan Ketapang dan Gilimanuk memiliki peran strategis dalam menghubungkan Pulau Jawa dan Bali. Selain menunjang mobilitas masyarakat, jalur ini menjadi penghubung penting bagi distribusi barang serta perjalanan wisata.

Dalam kondisi normal, lintasan tersebut melayani sekitar 8.000–9.000 kendaraan per hari. Jumlahnya dapat meningkat menjadi 9.000–13.000 kendaraan saat akhir pekan.

Dengan tingginya volume pergerakan tersebut, revitalisasi pelabuhan diharapkan mampu memperkuat konektivitas sekaligus meningkatkan kenyamanan pengguna jasa. Meski demikian, keberhasilan mewujudkan Gerbang Hijau Nusantara akan bergantung pada integrasi antara modernisasi fasilitas, pengelolaan lalu lintas, digitalisasi layanan, dan perlindungan lingkungan.

Sumber: detikJatim




Lebih baru Lebih lama

Tag Terpopuler