JAKARTA – Jumlah titik panas atau hotspot kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mengalami peningkatan di sejumlah wilayah Indonesia, terutama Kalimantan Tengah (Kalteng), Kalimantan Barat (Kalbar), Kalimantan Selatan (Kalsel), dan Sumatera Selatan (Sumsel). Kondisi ini menjadi perhatian pemerintah karena berpotensi memperluas kebakaran serta menimbulkan dampak terhadap lingkungan dan kesehatan masyarakat.
Berdasarkan laporan CNN Indonesia, Jumat (9/10/2026), data pemantauan hingga Rabu (7/10/2026) pukul 21.00 WIB menunjukkan jumlah hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi secara nasional mencapai 1.176 titik. Angka tersebut turun dibandingkan sehari sebelumnya yang tercatat sebanyak 1.201 titik. Meski demikian, sejumlah provinsi justru mengalami peningkatan titik panas.
Kalimantan Tengah mencatat kenaikan dari 182 menjadi 225 titik. Sementara itu, Sumatera Selatan mengalami peningkatan cukup besar, dari 71 menjadi 224 titik. Kalimantan Barat juga naik dari 34 menjadi 47 titik, sedangkan Kalimantan Selatan bertambah dari 18 menjadi 31 titik.
Di sisi lain, jumlah titik panas di Jambi turun dari 21 menjadi 16 titik. Riau bahkan tidak mencatat hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi dalam periode pemantauan tersebut. Perbedaan ini menunjukkan bahwa perkembangan karhutla di setiap wilayah tidak selalu sama dan membutuhkan penanganan sesuai kondisi lapangan.
Untuk mengantisipasi meluasnya kebakaran, Kementerian Kehutanan memperkuat pemantauan, patroli, serta pemeriksaan langsung terhadap titik panas atau groundcheck. Upaya tersebut diprioritaskan pada wilayah yang mengalami peningkatan signifikan, terutama Kalimantan Tengah dan Sumatera Selatan.
Penanganan karhutla dilakukan secara terpadu dengan melibatkan Manggala Agni Kementerian Kehutanan, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), TNI, Polri, BMKG, BPBD, pemerintah daerah, masyarakat, serta pihak terkait lainnya.
Pemerintah juga menyiagakan 61 unit armada udara untuk mendukung pengendalian karhutla. Armada tersebut terdiri atas 17 unit untuk patroli dan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC), serta 44 unit untuk pemadaman melalui penyiraman air dari udara atau water bombing.
Di darat, petugas melakukan pemadaman langsung, penyekatan penjalaran api, pembasahan lahan, hingga pendinginan area yang telah terbakar. Langkah ini diperlukan untuk mencegah api kembali menyala dan menyebar ke kawasan lain. Penanganan khusus juga dilakukan pada lahan gambut karena api dapat bertahan di bawah permukaan tanah meskipun kobaran di permukaan sudah tidak terlihat.
Selain mengancam kawasan hutan dan lahan, karhutla berpotensi menurunkan kualitas udara akibat asap yang dihasilkan. Pemerintah terus memantau kondisi udara, termasuk konsentrasi partikel halus PM2,5, untuk mengetahui potensi dampaknya terhadap masyarakat.
Warga di wilayah terdampak diimbau mengikuti informasi kualitas udara dan mengurangi aktivitas di luar ruangan apabila kondisi udara memburuk. Masyarakat juga diminta tidak membuka atau membersihkan lahan dengan cara membakar serta segera melaporkan apabila menemukan asap atau indikasi titik api kepada petugas.
Perlu diketahui, hotspot merupakan indikasi anomali suhu permukaan yang terdeteksi satelit dan tidak selalu menunjukkan adanya kebakaran pada setiap titik. Karena itu, pemeriksaan langsung tetap diperlukan untuk memastikan keberadaan api dan menentukan langkah penanganan yang tepat.
Peningkatan titik panas di empat provinsi tersebut menjadi pengingat pentingnya pengendalian karhutla secara berkelanjutan. Kecepatan mendeteksi dan menangani titik api, disertai koordinasi antara pemerintah dan masyarakat, diharapkan dapat mencegah kebakaran meluas serta mengurangi dampaknya terhadap lingkungan dan kesehatan.
Sumber: CNN Indonesia,
