Wamenko Dradjad Bantah Daya Beli Melemah, Sebut Pola Konsumsi Berubah

 


JAKARTA – Wakil Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Dradjad Hari Wibowo membantah anggapan bahwa daya beli masyarakat Indonesia sedang melemah. Menurutnya, data statistik menunjukkan konsumsi masyarakat masih tumbuh, sementara perubahan yang terjadi lebih berkaitan dengan pergeseran pola belanja dan gaya hidup.

Pernyataan tersebut disampaikan Dradjad dalam konferensi pers bersama Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Amalia Adininggar Widyasanti di Jakarta, Senin (12/10/2026). Ia menilai peningkatan aktivitas di sejumlah sektor menjadi salah satu indikator bahwa konsumsi masyarakat masih berjalan.

Dradjad menjelaskan, perubahan pola konsumsi terlihat dari meningkatnya aktivitas di sektor transportasi dan pariwisata. Masyarakat dinilai semakin banyak mengalokasikan pengeluaran untuk perjalanan, menginap di hotel, serta menikmati layanan restoran. Kondisi tersebut menunjukkan adanya perubahan prioritas belanja dibandingkan periode sebelumnya.

Menurut data BPS yang disampaikan dalam kesempatan tersebut, konsumsi masyarakat selama semester I 2026 masih tumbuh di atas 5 persen. Amalia juga menyebut konsumsi pada sektor restoran dan hotel tumbuh lebih dari 6 persen, seiring meningkatnya aktivitas masyarakat di sektor jasa dan pariwisata.

Selain itu, transaksi digital turut menjadi perhatian pemerintah. Data Bank Indonesia menunjukkan transaksi menggunakan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) tumbuh 67,22 persen secara tahunan. Peningkatan tersebut mencerminkan semakin luasnya penggunaan pembayaran digital dalam aktivitas ekonomi masyarakat.

Dradjad juga menyoroti perubahan kebiasaan berbelanja dari transaksi langsung di toko menjadi pembelian melalui platform daring. Menurutnya, perkembangan transaksi digital dan perubahan gaya hidup perlu diperhitungkan ketika menilai kondisi daya beli masyarakat secara keseluruhan.

Meski demikian, pergeseran pola konsumsi tidak serta-merta berarti seluruh kelompok masyarakat mengalami kondisi ekonomi yang sama. Data konsumsi agregat menggambarkan aktivitas ekonomi secara umum, sedangkan kemampuan belanja setiap rumah tangga dapat berbeda bergantung pada pendapatan, pengeluaran, dan kenaikan harga kebutuhan sehari-hari.

Dalam kesempatan yang sama, Dradjad turut menjelaskan bahwa tekanan inflasi Indonesia lebih banyak dipengaruhi persoalan pasokan dibandingkan lonjakan permintaan. Ketika ketersediaan barang tidak mampu memenuhi kebutuhan pasar, harga dapat meningkat meskipun konsumsi masyarakat masih tumbuh.

Karena itu, pemerintah perlu menjaga kelancaran distribusi, memperkuat produksi, dan memastikan ketersediaan barang kebutuhan pokok. Langkah tersebut dinilai penting agar kenaikan harga tidak semakin membebani rumah tangga.

Pemerintah juga menghadapi tantangan untuk memastikan pertumbuhan konsumsi dapat dirasakan secara merata. Peningkatan transaksi di sektor pariwisata dan pembayaran digital merupakan indikator aktivitas ekonomi, tetapi perlu dilihat bersama data pendapatan, inflasi, serta konsumsi kebutuhan dasar untuk mendapatkan gambaran daya beli yang lebih menyeluruh.

Pernyataan Dradjad tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah menjelaskan kondisi perekonomian di tengah munculnya kekhawatiran masyarakat mengenai biaya hidup. Pemerintah berpegang pada data statistik yang menunjukkan konsumsi masih tumbuh, sekaligus perlu terus mencermati perubahan harga dan kemampuan belanja rumah tangga.

Sumber: CNN Indonesia




Lebih baru Lebih lama

Tag Terpopuler