Bromo Mulai Hitung Kerugian Kebakaran


PROBOLINGGO – Dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) mulai dihitung. Selain kerusakan ekosistem, kebakaran juga berpotensi menimbulkan kerugian ekonomi akibat terganggunya aktivitas wisata di kawasan Bromo.

Balai Besar TNBTS melakukan pendataan untuk mengetahui secara lebih rinci luas kawasan yang terdampak serta berbagai kerugian yang ditimbulkan akibat kebakaran.

Penghitungan tersebut menjadi langkah penting setelah api berhasil dikendalikan. Data yang diperoleh nantinya dapat digunakan sebagai dasar untuk menentukan kebutuhan pemulihan kawasan, termasuk rehabilitasi lingkungan dan sarana pendukung wisata.

Kerusakan Tak Hanya Soal Lahan

Kebakaran di kawasan Bromo tidak hanya berdampak pada vegetasi yang terbakar. Ekosistem yang berada di dalam kawasan konservasi juga ikut terdampak.

Padang savana, semak belukar, hingga sejumlah vegetasi di area yang dilalap api membutuhkan waktu untuk kembali pulih. Kondisi tersebut menjadi perhatian karena TNBTS merupakan kawasan konservasi sekaligus salah satu destinasi wisata unggulan Jawa Timur.

Karena itu, proses penghitungan kerugian tidak hanya melihat luas lahan yang terbakar, tetapi juga memperhitungkan dampak terhadap ekosistem dan aktivitas masyarakat di sekitar kawasan.

Wisata Ikut Terdampak

Kebakaran juga berimbas pada sektor pariwisata. Ketika kawasan Bromo harus ditutup atau akses wisata dibatasi demi keselamatan pengunjung dan proses pemadaman, aktivitas ekonomi masyarakat di sekitar kawasan ikut terdampak.

Pelaku usaha seperti penyedia jasa jeep, penginapan, pedagang, hingga masyarakat yang menggantungkan pendapatan dari kunjungan wisatawan dapat mengalami penurunan pemasukan.

Pengalaman kebakaran Bromo pada tahun-tahun sebelumnya menunjukkan bahwa penutupan kawasan wisata dapat menimbulkan kerugian ekonomi yang cukup besar. Pada 2023, misalnya, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif pernah memperkirakan potensi kerugian akibat penutupan TNBTS mencapai puluhan miliar rupiah.

Pemulihan Membutuhkan Waktu

Setelah penghitungan selesai, tantangan berikutnya adalah memulihkan kawasan yang terdampak.

Pemulihan ekosistem tidak bisa dilakukan secara instan. Sebagian kawasan dapat pulih secara alami, sementara area tertentu membutuhkan rehabilitasi melalui penanaman kembali vegetasi yang sesuai dengan karakter ekosistem TNBTS.

Petugas juga perlu memastikan tidak ada titik api yang kembali muncul serta melakukan pemantauan terhadap kawasan yang telah terbakar.

Bagi pengelola TNBTS, perhitungan kerugian menjadi bagian penting untuk menentukan langkah selanjutnya. Harapannya, kawasan Bromo dapat kembali pulih dan aktivitas wisata dapat berlangsung dengan tetap menjaga kelestarian lingkungan.

Sumber: detikJatim

Lebih baru Lebih lama

Tag Terpopuler