Jakarta – Nilai tukar rupiah kembali dibuka melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Selasa (4/8). Mata uang Garuda tercatat berada di level Rp18.026 per dolar AS, melanjutkan tekanan yang dipengaruhi sentimen ekonomi global serta penguatan mata uang Negeri Paman Sam.
Berdasarkan data pasar, pelemahan rupiah terjadi seiring meningkatnya permintaan terhadap dolar AS di tengah kehati-hatian pelaku pasar menantikan sejumlah data ekonomi penting dari Amerika Serikat. Penguatan dolar juga didorong oleh ekspektasi investor terhadap arah kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed) yang masih menjadi perhatian utama pasar keuangan global.
Sejumlah mata uang di kawasan Asia juga bergerak bervariasi pada awal perdagangan. Tekanan terhadap mata uang negara berkembang masih dipengaruhi ketidakpastian ekonomi global, perkembangan geopolitik, serta arus modal asing yang cenderung berhati-hati memasuki pasar negara berkembang.
Analis memperkirakan pergerakan rupiah sepanjang hari masih akan dipengaruhi oleh sentimen eksternal, terutama perkembangan ekonomi Amerika Serikat dan dinamika pasar keuangan internasional. Di sisi domestik, stabilitas inflasi, kebijakan moneter Bank Indonesia, serta kondisi fundamental ekonomi nasional dinilai tetap menjadi faktor yang menopang pergerakan rupiah agar tidak mengalami pelemahan yang lebih dalam.
Bank Indonesia diperkirakan terus mencermati perkembangan nilai tukar dan siap melakukan langkah stabilisasi apabila volatilitas di pasar meningkat. Selama ini, bank sentral menegaskan akan menjaga stabilitas rupiah melalui berbagai instrumen kebijakan untuk mendukung stabilitas sistem keuangan nasional.
Pelaku pasar kini menunggu rilis data ekonomi global dan perkembangan kebijakan moneter bank sentral utama dunia yang diperkirakan akan menjadi penentu arah pergerakan rupiah dalam beberapa hari ke depan.
Sumber: CNN Indonesia