SURABAYA – Kasus dugaan penipuan dengan modus menjanjikan kelulusan dalam rekrutmen Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) mencuat di Jawa Timur. Perkara tersebut kini tengah diusut Polda Jawa Timur, dengan nilai kerugian korban ditaksir mencapai Rp20 miliar. Dugaan kasus ini semakin menjadi sorotan karena disebut melibatkan oknum militer yang masih aktif berdinas.
Kasus tersebut dilaporkan ke Polda Jatim setelah sejumlah korban mengaku mengalami kerugian besar akibat tawaran untuk bisa lolos menjadi aparatur sipil negara. Dalam laporan awal, terdapat lima korban yang melaporkan perkara tersebut pada 8 Agustus 2026. Namun, jumlah korban yang diduga terdampak disebut mencapai lebih dari 20 orang.
Modus yang digunakan diduga dengan menawarkan jalur khusus atau "seleksi susulan" bagi peserta yang sebelumnya gagal dalam proses seleksi CPNS periode 2024-2025. Para korban kemudian diyakinkan bahwa masih terdapat kesempatan untuk diterima melalui jalur tertentu.
Dijanjikan Lolos CPNS
Para korban disebut awalnya mengikuti proses seleksi CPNS secara resmi. Setelah dinyatakan tidak lolos pada tahapan akhir, mereka kemudian diduga ditawari kesempatan untuk mengikuti proses seleksi tambahan.
Tawaran tersebut disebut datang melalui sejumlah pihak yang diklaim memiliki akses ke instansi pemerintah. Salah satu nama yang dilaporkan adalah OP, yang disebut sebagai pemilik sebuah lembaga pelatihan kerja di Sidoarjo.
Para korban kemudian dijanjikan dapat diterima di sejumlah instansi pemerintah maupun perusahaan BUMN dengan membayar sejumlah uang. Nilai yang diminta berbeda-beda, tergantung instansi yang dituju. Dalam sejumlah kasus, nominal yang diminta disebut mencapai ratusan juta rupiah untuk satu orang.
Untuk membuat tawaran tersebut terlihat meyakinkan, proses yang disebut sebagai "seleksi susulan" diduga dibuat menyerupai proses rekrutmen resmi. Korban bahkan disebut mengikuti berbagai tahapan, mulai dari tes akademik, tes fisik, psikologi hingga pemeriksaan kesehatan.
Dokumen Diduga Dibuat Seolah Resmi
Kecurigaan mulai muncul setelah sejumlah dokumen yang diberikan kepada korban diduga menggunakan kop dan format yang menyerupai dokumen resmi instansi pemerintah.
Dokumen tersebut kemudian diverifikasi. Hasilnya, dokumen yang diterima korban disebut tidak tercatat dalam sistem instansi terkait dan diduga palsu.
Kondisi tersebut membuat korban menyadari adanya dugaan penipuan. Mereka kemudian menempuh jalur hukum dengan melaporkan perkara tersebut kepada Polda Jawa Timur.
Kerugian Capai Rp20 Miliar
Besarnya nilai kerugian menjadi salah satu hal yang membuat kasus ini mendapat perhatian. Berdasarkan laporan yang dihimpun, total kerugian para korban ditaksir mencapai lebih dari Rp20 miliar.
Jumlah tersebut berasal dari uang yang diduga telah diserahkan para korban karena percaya terhadap janji kelulusan CPNS. Nilai pembayaran bervariasi tergantung posisi atau instansi yang disebut menjadi tujuan.
Kasus ini juga menjadi perhatian karena adanya dugaan keterlibatan oknum militer aktif. Namun, dugaan tersebut masih dalam proses penyelidikan dan belum dapat disimpulkan sebagai keterlibatan yang terbukti secara hukum.
Polda Jawa Timur kini melakukan penyelidikan untuk mengungkap pihak-pihak yang terlibat, aliran dana, serta bagaimana modus tersebut dijalankan. Polisi juga perlu memastikan apakah terdapat pihak lain yang berperan dalam meyakinkan para korban.
Polda Jatim Turun Tangan
Penyidik akan mendalami keterangan para korban serta mengumpulkan berbagai bukti yang berkaitan dengan dugaan penipuan tersebut. Bukti berupa komunikasi, dokumen, transaksi keuangan, maupun keterangan pihak-pihak yang disebut terlibat akan menjadi bagian penting dalam proses penyelidikan.
Kasus ini sekaligus menjadi peringatan bagi masyarakat agar tidak mudah percaya terhadap pihak yang mengklaim mampu menjamin kelulusan dalam seleksi CPNS.
Sebab, proses penerimaan CPNS dilakukan melalui mekanisme resmi dan kompetitif. Tawaran untuk "meloloskan" seseorang dengan imbalan sejumlah uang patut dicurigai dan perlu diverifikasi melalui kanal resmi pemerintah.
Hingga saat ini, perkara tersebut masih berada dalam tahap penanganan kepolisian. Dugaan keterlibatan pihak-pihak tertentu serta seluruh kerugian korban masih harus dibuktikan melalui proses hukum.
Kasus ini menjadi semakin mencolok karena bukan hanya menyangkut dugaan penipuan bernilai puluhan miliar rupiah, tetapi juga menyentuh kepercayaan masyarakat terhadap proses rekrutmen aparatur negara.
Sumber: CNN Indonesia