NGANJUK – Kebakaran terjadi di kawasan puncak Gunung Wilis yang berada di wilayah perbatasan Kabupaten Nganjuk dan Ponorogo, Jawa Timur. Kobaran api terlihat pada Rabu (16/9/2026) malam dan hingga kini masih terus dipantau oleh petugas.
Titik api diketahui terpantau dari Kantor BMKG Stasiun Geofisika Nganjuk sekitar pukul 19.16 WIB. Dari hasil pemantauan, api terlihat bergerak ke arah timur dan barat yang mengarah ke wilayah Kabupaten Nganjuk.
Kondisi vegetasi yang relatif kering menjadi salah satu faktor yang perlu diwaspadai karena dapat membuat api lebih mudah menyebar. Selain itu, perubahan arah maupun kecepatan angin juga dapat memengaruhi pergerakan kobaran api di kawasan pegunungan.
BMKG Nganjuk sebelumnya mendeteksi puluhan titik panas atau hotspot di kawasan Gunung Wilis. Total terdapat 46 titik panas yang terpantau berada di sejumlah wilayah sekitar puncak gunung tersebut.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 8 titik panas terdeteksi berada di wilayah Desa Ngliman, Kabupaten Nganjuk. Sementara itu, 24 titik berada di Desa Banaran dan 14 titik lainnya terdeteksi di Desa Krisik, Kabupaten Ponorogo.
Keberadaan titik-titik panas tersebut menjadi perhatian karena kondisi musim kemarau dapat membuat lahan dan vegetasi di kawasan pegunungan lebih mudah terbakar. Api juga berpotensi meluas apabila kondisi angin cukup kencang dan material kering di sekitar lokasi terus tersedia.
Meski titik api dilaporkan masih berada cukup jauh dari kawasan permukiman, masyarakat yang tinggal di sekitar lereng Gunung Wilis tetap diminta meningkatkan kewaspadaan. Warga juga diimbau tidak melakukan aktivitas yang berpotensi menimbulkan api, termasuk pembakaran lahan maupun sampah secara terbuka.
BPBD Nganjuk bersama pihak terkait terus melakukan pemantauan terhadap perkembangan kebakaran. Kondisi di lapangan menjadi perhatian untuk memastikan api tidak meluas dan mendekati wilayah yang dihuni masyarakat.
Masyarakat yang berada di sekitar lereng Gunung Wilis juga diharapkan segera melaporkan apabila melihat adanya titik api baru atau kepulan asap dari kawasan hutan. Pemantauan dilakukan untuk mengantisipasi perkembangan kebakaran, terutama jika kondisi cuaca dan angin berubah.
Sumber: detikJatim