JAKARTA — Indonesia membutuhkan investasi yang sangat besar untuk membangun pembangkit listrik dan jaringan transmisi dalam rangka memenuhi kebutuhan energi hingga 2060. Nilai investasi yang dibutuhkan diperkirakan mencapai sekitar Rp17.982 triliun atau setara dengan sekitar US$1,1 triliun.
Kebutuhan dana tersebut berkaitan dengan rencana pemerintah meningkatkan kapasitas pembangkit sekaligus memperkuat jaringan transmisi listrik nasional. Langkah ini menjadi bagian dari upaya memenuhi kebutuhan listrik yang terus meningkat dan mendorong penggunaan energi baru terbarukan (EBT).
Wakil Menteri ESDM Yuliot Tanjung sebelumnya menjelaskan bahwa kebutuhan investasi tersebut diperlukan untuk pembangunan pembangkit dan transmisi dalam jangka panjang. Dari total kebutuhan sekitar US$1,1 triliun, sekitar US$1 triliun dialokasikan untuk pembangkit listrik dan sekitar US$104 miliar untuk pembangunan transmisi.
Jika dihitung dalam rata-rata tahunan, kebutuhan investasi tersebut berada di kisaran US$30 miliar per tahun. Besarnya kebutuhan pembiayaan menunjukkan bahwa pengembangan sistem kelistrikan Indonesia hingga 2060 membutuhkan keterlibatan investasi dalam skala besar dan berkelanjutan.
Porsi Energi Terbarukan Terus Ditingkatkan
Salah satu sasaran utama pembangunan kelistrikan tersebut adalah meningkatkan porsi energi terbarukan dalam bauran pembangkit nasional. Pemerintah memproyeksikan porsi pembangkit berbasis EBT meningkat dari sekitar 16% pada 2025 menjadi 74% pada 2060.
Peningkatan tersebut berkaitan dengan target Indonesia mencapai Net Zero Emission (NZE) pada 2060. Untuk mencapainya, pembangunan pembangkit energi bersih perlu dilakukan secara bertahap, disertai dengan pengembangan jaringan transmisi yang mampu menyalurkan listrik dari berbagai sumber energi ke pusat-pusat konsumsi.
Kementerian ESDM juga menyebut pengembangan kapasitas pembangkit hingga 100 GW menjadi bagian dari agenda penguatan sistem kelistrikan sekaligus mendukung target NZE pada rentang 2050-2060. Pemerintah mendorong peningkatan porsi EBT dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL).
Kebutuhan Listrik Diproyeksikan Terus Naik
Investasi besar tersebut tidak hanya berkaitan dengan pengurangan emisi. Indonesia juga menghadapi kebutuhan listrik yang diperkirakan terus meningkat seiring pertumbuhan ekonomi, industrialisasi, elektrifikasi transportasi, serta meningkatnya konsumsi listrik masyarakat.
Kementerian ESDM sebelumnya memproyeksikan kebutuhan listrik Indonesia pada 2060 dapat mencapai sekitar 1.885 TWh. Konsumsi listrik per kapita juga diproyeksikan meningkat hingga lebih dari 5.000 kWh per kapita.
Artinya, pembangunan pembangkit energi terbarukan harus berjalan beriringan dengan pembangunan infrastruktur pendukung. Tanpa jaringan transmisi dan sistem kelistrikan yang memadai, tambahan kapasitas pembangkit tidak akan optimal dalam memenuhi kebutuhan listrik di berbagai wilayah.
Peluang Investasi Besar
Besarnya kebutuhan investasi juga membuka peluang bagi sektor swasta dan investor untuk masuk ke industri energi bersih. Dalam jangka lebih pendek, pemerintah memperkirakan implementasi RUPTL 2025-2034 membuka peluang investasi sekitar Rp2.133,7 triliun, termasuk sekitar Rp1.341,8 triliun untuk energi baru terbarukan melalui skema independent power producer (IPP).
Peluang tersebut mencakup pembangunan pembangkit maupun infrastruktur kelistrikan. Dengan demikian, transisi energi tidak hanya dipandang sebagai agenda pengurangan emisi, tetapi juga sebagai salah satu sumber investasi dan aktivitas ekonomi baru.
Pemerintah juga mengaitkan pengembangan energi hijau dengan pertumbuhan ekonomi. Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian menyebut kebutuhan listrik yang andal dan terjangkau menjadi salah satu prasyarat untuk mendorong investasi bernilai tambah tinggi. Pemerintah memproyeksikan kebutuhan listrik dapat mencapai 700-800 TWh pada 2030.
Energi Surya Jadi Salah Satu Fokus
Salah satu teknologi yang mendapat perhatian besar adalah pembangkit listrik tenaga surya (PLTS). Pemerintah tengah mendorong pengembangan PLTS dalam skala besar, termasuk program kapasitas hingga 100 GWp.
Program PLTS 100 GWp tersebut diperkirakan membutuhkan investasi sekitar Rp1.140 triliun. Selain menambah kapasitas listrik, pemerintah memperkirakan program itu dapat menciptakan sekitar 5,52 juta job years, mengurangi penggunaan diesel hingga sekitar 6 juta kiloliter per tahun, serta menurunkan emisi sekitar 140 juta ton CO₂.
Pengembangan PLTS juga membutuhkan sistem penyimpanan energi seperti Battery Energy Storage System (BESS) agar listrik yang dihasilkan dapat dikelola dengan lebih fleksibel, terutama karena produksi listrik tenaga surya bergantung pada kondisi penyinaran matahari.
Tantangan Pendanaan dan Infrastruktur
Kebutuhan investasi Rp17.982 triliun hingga 2060 tentu bukan angka kecil. Pemerintah perlu memastikan tersedianya skema pembiayaan jangka panjang, kepastian regulasi, kesiapan infrastruktur, serta mekanisme investasi yang mampu menarik modal dari dalam maupun luar negeri.
Selain pembangkit, jaringan transmisi menjadi faktor penting. Indonesia memiliki wilayah geografis yang luas dan karakteristik sistem kelistrikan yang berbeda-beda. Karena itu, pengembangan pembangkit energi terbarukan harus diikuti pembangunan jaringan yang mampu menghubungkan sumber listrik dengan wilayah yang membutuhkan energi.
International Energy Agency (IEA) dan Kementerian ESDM juga sebelumnya menekankan pentingnya pengembangan energi terbarukan, efisiensi energi, elektrifikasi, serta penguatan jaringan listrik dalam skenario menuju NZE 2060.
Dengan kebutuhan investasi mencapai sekitar Rp17.982 triliun hingga 2060, transisi energi Indonesia menjadi proyek jangka panjang yang membutuhkan pembiayaan besar. Pemerintah kini tidak hanya dituntut menambah kapasitas energi terbarukan, tetapi juga memastikan pembangunan transmisi, sistem penyimpanan, dan infrastruktur kelistrikan berjalan seiring dengan meningkatnya permintaan listrik.
Jika investasi tersebut dapat direalisasikan secara bertahap, pembangunan energi terbarukan diharapkan dapat memperkuat ketahanan energi sekaligus mendukung target pengurangan emisi Indonesia menuju Net Zero Emission 2060.
Sumber: CNN Indonesia