BANYUWANGI — Kemacetan panjang yang berulang terjadi menuju Pelabuhan Penyeberangan Ketapang, Banyuwangi, dinilai membutuhkan penanganan dari sisi operasional hingga pembangunan infrastruktur. Pengamat transportasi menilai persoalan tersebut tidak cukup diselesaikan hanya dengan menambah kapal ketika antrean sudah terjadi.
Pengamat transportasi dari Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI), Djoko Setijowarno, mengatakan penanganan kemacetan perlu dilakukan secara bertahap, mulai dari solusi jangka pendek, menengah hingga jangka panjang. Menurutnya, penyebab antrean perlu terlebih dahulu diidentifikasi agar penanganannya tidak hanya bersifat sementara.
Untuk jangka pendek, persoalan yang menyebabkan antrean perlu segera diatasi agar layanan penyeberangan tetap berjalan. Sementara itu, langkah jangka menengah dapat diarahkan pada evaluasi akar masalah, perbaikan SOP, regulasi, serta infrastruktur penunjang.
Adapun dalam jangka panjang, diperlukan pembenahan struktural dan koordinasi yang lebih kuat antar-pemangku kepentingan. Penanganan permanen dinilai harus dilakukan secara terintegrasi agar kemacetan tidak terus berulang.
Salah satu yang disoroti adalah peningkatan kapasitas dermaga, khususnya Dermaga LCM/MB. Selain itu, diperlukan pembangunan buffer zone atau kantong parkir terpadu di jalur pendekatan menuju pelabuhan.
Penataan akses jalan nasional menuju kawasan pelabuhan juga menjadi bagian penting. Dengan adanya buffer zone, kendaraan yang belum mendapatkan giliran masuk pelabuhan dapat ditampung sehingga antrean tidak meluber dan mengganggu lalu lintas di jalan nasional.
Kemacetan di Ketapang juga berdampak terhadap sektor logistik. Truk yang tertahan berjam-jam bahkan berhari-hari membuat konsumsi bahan bakar, biaya makan pengemudi, serta biaya operasional dan pemeliharaan kendaraan meningkat.
Waktu perjalanan yang tersita akibat antrean juga menurunkan produktivitas armada. Kondisi tersebut pada akhirnya dapat meningkatkan biaya angkutan dan berpotensi berdampak terhadap harga barang.
Dampak lainnya dapat dirasakan oleh pengiriman komoditas yang mudah rusak seperti buah, sayuran, daging dan produk perikanan. Keterlambatan penyeberangan dapat membuat kualitas komoditas tersebut menurun.
Djoko juga menyoroti perlunya penataan kendaraan yang membawa muatan berlebih atau over dimension over loading (ODOL), peningkatan kapasitas dermaga, serta pengaturan pemesanan tiket berbasis kuota secara real-time melalui sistem Ferizy.
Menurutnya, kemacetan yang terus berulang bukan hanya persoalan pengguna jalan, tetapi dapat memberikan dampak yang lebih luas terhadap konektivitas logistik antarpulau dan aktivitas ekonomi daerah.
Karena itu, penyelesaian kemacetan Ketapang dinilai perlu dilakukan secara struktural dan berkelanjutan, bukan hanya ketika antrean kendaraan sudah mengular.
Sumber: detikJatim