Harga minyak mentah dunia mulai bergerak stabil pada Jumat (23/10/2026), setelah sebelumnya mengalami lonjakan sekitar 4 persen hingga mencapai level tertinggi dalam lima bulan terakhir. Pergerakan ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan di Timur Tengah menyusul serangan kelompok Houthi terhadap Arab Saudi yang memicu kekhawatiran mengenai pasokan energi global.
Mengutip laporan Reuters, harga minyak mentah Brent untuk kontrak berjangka turun tipis sekitar 0,2 persen menjadi US$112,96 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat melemah sekitar 0,3 persen ke level US$98,12 per barel pada perdagangan awal Asia.
Meski mengalami penurunan tipis, harga minyak masih berada pada level tinggi. Pelaku pasar terus mencermati perkembangan konflik di kawasan Timur Tengah yang berpotensi mengganggu produksi maupun distribusi minyak mentah ke berbagai negara.
Serangan Houthi Picu Kekhawatiran Pasokan
Lonjakan harga minyak sebelumnya dipicu oleh serangan kelompok Houthi yang berbasis di Yaman terhadap sejumlah sasaran di Arab Saudi. Serangan tersebut meningkatkan kekhawatiran pasar karena Arab Saudi merupakan salah satu negara pengekspor minyak terbesar di dunia.
Situasi keamanan yang memburuk menimbulkan kekhawatiran terhadap infrastruktur energi dan jalur pelayaran strategis di kawasan tersebut. Jika konflik meluas, distribusi minyak dari Timur Tengah berisiko mengalami gangguan dan dapat menekan pasokan di pasar internasional.
Ketegangan itu juga berdampak pada aktivitas perusahaan minyak nasional Arab Saudi, Saudi Aramco. Laporan Reuters menyebutkan perusahaan tersebut memerintahkan pengosongan kantor pusatnya di Dhahran ketika situasi keamanan semakin memanas.
Investor kini memantau perkembangan konflik untuk menilai apakah gangguan tersebut akan berdampak jangka panjang terhadap pasokan minyak dunia.
Gangguan Produksi di Libya Ikut Disorot
Selain situasi di Arab Saudi, pasar minyak juga menghadapi kekhawatiran akibat gangguan produksi di Libya. Sebuah katup pada jaringan pipa yang menghubungkan ladang minyak Hamada dan Tahara menuju pelabuhan Zawiya dilaporkan mengalami penutupan.
Gangguan tersebut menyebabkan produksi dari kedua ladang minyak itu berkurang. Kondisi ini menambah tekanan terhadap pasokan global, terutama ketika pasar sedang menghadapi ketidakpastian akibat konflik di Timur Tengah.
Kombinasi risiko geopolitik dan gangguan produksi membuat pergerakan harga minyak tetap sensitif terhadap perkembangan terbaru. Pelaku pasar memperhitungkan kemungkinan berkurangnya pasokan apabila situasi keamanan di kawasan penghasil minyak utama terus memburuk.
Harga Minyak Masih Berpotensi Bergejolak
Pergerakan harga minyak yang mulai melandai belum tentu menandakan berakhirnya tekanan di pasar energi. Penurunan tipis pada Jumat terjadi setelah kenaikan tajam pada perdagangan sebelumnya, sehingga pelaku pasar masih menunggu perkembangan lebih lanjut.
Minyak Brent juga tercatat berada di jalur kenaikan mingguan untuk pekan ketiga berturut-turut. Sebaliknya, WTI berpotensi mengakhiri tren kenaikan selama dua pekan terakhir dengan mencatat pelemahan mingguan.
Di luar konflik Timur Tengah, perkembangan hubungan Rusia dan Ukraina turut menjadi perhatian. Rusia menyatakan kesiapan untuk melanjutkan pembicaraan damai yang dimediasi Amerika Serikat pada November. Perkembangan diplomatik tersebut dapat memengaruhi perkiraan pasar terhadap pasokan energi, mengingat sanksi terhadap Rusia masih menjadi salah satu faktor yang memengaruhi perdagangan minyak internasional.
Ke depan, harga minyak dunia akan bergantung pada perkembangan keamanan di Timur Tengah, kelancaran jalur distribusi, serta perubahan produksi dari negara-negara penghasil minyak. Apabila konflik meluas dan pasokan terganggu, harga minyak berpotensi kembali mengalami tekanan kenaikan.
Sumber Berita
Media: CNN Indonesia
Tags
Ekonomi
