Perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) membawa perubahan besar dalam dunia pendidikan. Teknologi ini memudahkan siswa mencari informasi, menyusun tulisan, hingga memperoleh jawaban dalam waktu singkat. Namun, kemudahan tersebut juga menimbulkan kekhawatiran bahwa peserta didik semakin bergantung pada teknologi dan kehilangan kesempatan untuk melatih kemampuan berpikir secara mandiri.
Di tengah tren penggunaan AI, pendekatan pembelajaran yang menekankan kedisiplinan, proses berpikir, dan pengerjaan tugas secara mandiri kembali menjadi perhatian. Sejumlah pendekatan pendidikan berusaha memastikan bahwa teknologi berfungsi sebagai alat bantu, bukan pengganti usaha siswa dalam memahami materi.
Mengutamakan Proses Belajar, Bukan Sekadar Hasil
Salah satu tantangan terbesar dalam penggunaan AI di sekolah adalah memastikan siswa benar-benar memahami materi yang dipelajari. Ketika jawaban dapat diperoleh hanya dengan memasukkan pertanyaan ke aplikasi AI, siswa berisiko melewatkan proses membaca, menganalisis, dan menyusun pemikiran sendiri.
Padahal, proses tersebut merupakan bagian penting dalam membangun kemampuan akademik. Siswa tidak cukup hanya menghasilkan jawaban yang benar, tetapi juga perlu mampu menjelaskan alasan, langkah penyelesaian, dan sumber informasi yang digunakan.
Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Stella Christie sebelumnya mengingatkan agar AI tidak dijadikan jalan pintas untuk mencari jawaban. Menurutnya, kemampuan membaca, menulis, menghitung, dan memecahkan masalah perlu dibangun melalui latihan yang dilakukan secara aktif oleh peserta didik. <Cite refs={["turn970289search8"]}/>
Karena itu, pendekatan pembelajaran yang menekankan latihan mandiri tetap memiliki peran penting di tengah perkembangan teknologi. Guru dapat meminta siswa menjelaskan jawaban dengan kata-kata sendiri, menunjukkan tahapan pengerjaan, atau mempresentasikan hasil tugas di depan kelas.
Pendekatan Konservatif dalam Menghadapi AI
Pendekatan konservatif dalam pendidikan dapat dipahami sebagai penekanan kembali pada kedisiplinan akademik, penguasaan dasar-dasar pengetahuan, dan tanggung jawab pribadi dalam belajar. Dalam konteks penggunaan AI, pendekatan ini bukan berarti menolak seluruh perkembangan teknologi, melainkan membatasi penggunaannya pada kegiatan yang sesuai dengan tujuan pembelajaran.
Siswa, misalnya, dapat diminta menyelesaikan latihan matematika tanpa bantuan AI untuk mengukur pemahaman dasar. Dalam tugas menulis, mereka juga dapat diminta menyusun draf awal secara mandiri sebelum menggunakan teknologi untuk memeriksa atau mengembangkan gagasan, apabila aturan tugas mengizinkannya.
Guru juga dapat menilai proses pengerjaan, bukan hanya hasil akhir. Catatan penelitian, draf tulisan, diskusi, dan presentasi lisan dapat membantu menunjukkan sejauh mana siswa memahami materi yang dikerjakan.
Dengan cara tersebut, pembelajaran tetap memberikan ruang bagi pemanfaatan teknologi, sekaligus menjaga agar kemampuan dasar siswa tidak bergantung sepenuhnya pada jawaban otomatis.
Pemerintah Atur Penggunaan AI di Sekolah
Di Indonesia, pemanfaatan AI dalam pendidikan telah diatur melalui Surat Keputusan Bersama (SKB) Tujuh Menteri tentang Pedoman Pemanfaatan dan Pembelajaran Teknologi Digital serta Kecerdasan Artifisial di jalur pendidikan formal, nonformal, dan informal. Kebijakan tersebut ditandatangani pada 12 Maret 2026.
Pedoman ini bertujuan memastikan penggunaan teknologi berlangsung secara bijak, aman, etis, dan sesuai dengan kesiapan peserta didik. Pemerintah juga menekankan pentingnya perlindungan anak serta pencegahan dampak negatif penggunaan teknologi digital terhadap proses belajar. <Cite refs={["turn392171search2","turn392171search7"]}/>
Dalam penerapannya, sekolah perlu menjelaskan aturan penggunaan AI pada setiap tugas dan penilaian. Ada kegiatan yang mengharuskan siswa bekerja secara mandiri, sementara kegiatan lain dapat memperbolehkan penggunaan AI secara terbatas atau menjadikannya bagian dari pembelajaran.
Dengan adanya aturan yang jelas, siswa diharapkan memahami kapan teknologi boleh digunakan dan kapan mereka harus mengandalkan kemampuan sendiri.
Sanksi bagi Siswa yang Menyalahgunakan AI
Penggunaan AI yang tidak sesuai ketentuan, termasuk untuk menyontek atau melakukan plagiarisme, dapat ditindaklanjuti oleh sekolah sesuai kebijakan yang berlaku. Bentuk sanksinya dapat disesuaikan dengan jenis dan tingkat pelanggaran.
Dalam pedoman yang diberitakan detikEdu, sanksi dapat berupa teguran lisan atau tertulis, pengurangan nilai, pemberian nilai nol untuk tugas terkait, hingga pemanggilan orang tua atau wali. Sekolah juga dapat menerapkan sanksi akademik lain sesuai tingkat pelanggaran. <Cite refs={["turn392171search0"]}/>
Penerapan sanksi tersebut perlu disertai penjelasan mengenai aturan yang dilanggar. Siswa perlu memahami bahwa persoalannya bukan semata-mata menggunakan teknologi, melainkan menggunakan AI dengan cara yang bertentangan dengan ketentuan tugas atau mengakui hasil kerja AI sebagai karya sendiri tanpa mengikuti aturan yang ditetapkan.
Selain memberikan konsekuensi, sekolah juga perlu membimbing siswa agar memahami etika penggunaan teknologi dan pentingnya kejujuran akademik.
AI Tetap Bisa Menjadi Alat Bantu Pembelajaran
Meski penggunaan AI perlu dibatasi dalam situasi tertentu, teknologi ini tetap berpotensi mendukung pembelajaran jika digunakan secara tepat. AI dapat membantu siswa mengeksplorasi gagasan, membandingkan informasi, atau mempelajari konsep yang belum dipahami, sepanjang penggunaannya sesuai dengan aturan dari guru.
Siswa juga perlu dilatih memeriksa kebenaran jawaban AI. Informasi yang dihasilkan teknologi tersebut tidak selalu akurat dan dapat mengandung kekeliruan atau bias. Oleh karena itu, jawaban AI sebaiknya dibandingkan dengan buku pelajaran, sumber ilmiah, dan situs resmi yang tepercaya.
Tantangan pendidikan saat ini bukan hanya mengenalkan teknologi kepada siswa, tetapi juga membangun kemampuan untuk menggunakannya secara bertanggung jawab. Kemampuan berpikir kritis, kemandirian, dan integritas akademik tetap menjadi bekal penting meskipun teknologi terus berkembang.
Pada akhirnya, pendidikan di era AI perlu menemukan keseimbangan antara inovasi dan pembelajaran mandiri. Teknologi dapat membantu proses belajar, tetapi pemahaman, penalaran, dan tanggung jawab siswa tetap harus menjadi bagian utama dari pendidikan.
Sumber Berita
Media: detikEdu
Tags
pendidikan
