Hari Jadi Bangkalan 24 Oktober, Ini Sejarahnya

 

Kabupaten Bangkalan, Jawa Timur, memperingati hari jadinya setiap tanggal 24 Oktober. Peringatan ini bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan momentum untuk mengenang perjalanan sejarah pemerintahan Bangkalan yang memiliki kaitan erat dengan perkembangan kerajaan di Madura Barat.

Tanggal 24 Oktober ditetapkan berdasarkan peristiwa penobatan Raden Pratanu sebagai Panembahan Lemah Duwur pada 1531. Sosok tersebut menjadi salah satu tokoh penting dalam sejarah Bangkalan, terutama dalam perkembangan pemerintahan dan penyebaran agama Islam di wilayah Madura bagian barat.

Sejarah Penetapan Hari Jadi Bangkalan

Penetapan hari jadi Bangkalan melalui proses kajian sejarah yang melibatkan penelitian, seminar, serta pembahasan oleh sejumlah pihak. Upaya tersebut dilakukan untuk menentukan tanggal yang memiliki dasar historis dan dapat dijadikan acuan resmi peringatan hari jadi daerah.

Berdasarkan hasil kajian Tim 19, tanggal 24 Oktober 1531 akhirnya ditetapkan sebagai hari jadi Bangkalan. Keputusan tersebut disetujui DPRD Kabupaten Bangkalan pada 1992, kemudian diperkuat melalui keputusan pemerintah daerah pada tahun yang sama.

Tanggal itu dipilih karena berkaitan dengan penobatan Raden Pratanu sebagai Panembahan Lemah Duwur. Peristiwa tersebut dipandang sebagai tonggak penting dalam perkembangan pemerintahan di wilayah Bangkalan.

Berawal dari Kerajaan Plakaran

Sejarah Bangkalan tidak terlepas dari keberadaan Kerajaan Plakaran yang berpusat di kawasan Arosbaya. Kerajaan tersebut menjadi salah satu cikal bakal pemerintahan di Madura Barat pada awal abad ke-16.

Dalam catatan sejarah setempat, Ki Demung Plakaran disebut sebagai tokoh yang membangun pusat kekuasaan di wilayah Plakaran. Kekuasaan kemudian diteruskan oleh keturunannya, termasuk Raden Pragalba yang menjadi penguasa sebelum Raden Pratanu.

Pada masa pemerintahan Raden Pragalba, wilayah kekuasaan di Madura Barat mengalami perkembangan. Setelah Raden Pragalba wafat, Raden Pratanu meneruskan pemerintahan dan dikenal dengan gelar Panembahan Lemah Duwur.

Peralihan kepemimpinan tersebut menjadi bagian penting dari perjalanan sejarah Bangkalan. Wilayah Arosbaya berkembang sebagai pusat pemerintahan sekaligus kawasan yang memiliki hubungan dengan jalur perdagangan dan wilayah lain di Jawa Timur.

Peran Panembahan Lemah Duwur

Panembahan Lemah Duwur dikenal sebagai salah satu tokoh penting dalam sejarah Madura Barat. Selain menjalankan pemerintahan, ia juga berperan dalam perkembangan agama Islam di wilayah kekuasaannya.

Pada masa pemerintahannya, hubungan dengan sejumlah pusat perdagangan dan penyebaran Islam di Pulau Jawa, seperti Gresik, Tuban, dan kawasan pesisir utara Jawa Timur, turut berkembang. Hubungan tersebut mendukung interaksi masyarakat dalam bidang perdagangan, sosial, dan keagamaan.

Catatan sejarah setempat juga mengaitkan masa pemerintahannya dengan pembangunan pusat pemerintahan dan masjid di Arosbaya. Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa wilayah ini tidak hanya memiliki peran politik, tetapi juga menjadi bagian dari perjalanan penyebaran Islam di Madura.

Panembahan Lemah Duwur memerintah hingga 1592. Setelah wafat, kekuasaan diteruskan oleh keturunannya. Dalam periode-periode berikutnya, pemerintahan di Madura Barat terus mengalami perubahan hingga muncul penguasa dari Dinasti Cakraningrat.

Asal-usul Nama Bangkalan

Selain sejarah hari jadinya, nama Bangkalan juga memiliki kisah asal-usul yang berkembang di masyarakat. Salah satu cerita rakyat menghubungkan nama tersebut dengan kisah kematian Ki Lesap, sosok yang dikenal dalam legenda sejarah Madura.

Dalam versi cerita yang beredar, nama Bangkalan dikaitkan dengan gabungan kata yang dimaknai sebagai peristiwa kematian atau tewasnya seseorang. Namun, penjelasan tersebut merupakan bagian dari tradisi tutur dan perlu dibedakan dari catatan sejarah yang menjadi dasar penetapan hari jadi kabupaten.

Karena itu, sejarah penetapan hari jadi Bangkalan lebih merujuk pada peristiwa penobatan Raden Pratanu sebagai Panembahan Lemah Duwur pada 1531.

Momentum Mengenang Sejarah dan Budaya Daerah

Peringatan Hari Jadi Bangkalan setiap 24 Oktober menjadi kesempatan untuk mengenang tokoh-tokoh yang berperan dalam pembentukan pemerintahan daerah. Momen ini juga dapat dimanfaatkan untuk memperkenalkan sejarah lokal kepada generasi muda agar warisan budaya Madura tetap dikenal.

Perjalanan Bangkalan dari pusat kekuasaan di kawasan Plakaran dan Arosbaya hingga menjadi kabupaten seperti sekarang memperlihatkan panjangnya proses sejarah yang membentuk identitas daerah.

Dengan memahami sejarah tersebut, masyarakat diharapkan tidak hanya merayakan hari jadi sebagai agenda tahunan, tetapi juga menghargai nilai sejarah, budaya, dan perjuangan para pendahulu yang turut membentuk Bangkalan.

Sumber Berita

Media: detikJatim





Lebih baru Lebih lama

Tag Terpopuler