JAKARTA – Laju inflasi tahunan Indonesia meningkat menjadi 3,34 persen pada Juni 2026, level tertinggi dalam tiga bulan terakhir. Kenaikan tersebut melampaui perkiraan para ekonom dan membawa inflasi mendekati batas atas target Bank Indonesia (BI) yang berada pada kisaran 1,5 persen hingga 3,5 persen.
Berdasarkan laporan Reuters, data yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) pada Rabu (1/7) menunjukkan inflasi tahunan naik dari 3,08 persen pada Mei menjadi 3,34 persen pada Juni. Angka tersebut juga lebih tinggi dibandingkan median proyeksi ekonom dalam jajak pendapat Reuters yang memperkirakan inflasi berada di level 3,20 persen.
Kenaikan inflasi dipicu oleh naiknya harga sejumlah barang dan jasa, terutama akibat penyesuaian harga bahan bakar nonsubsidi yang mendorong biaya transportasi. Selain itu, kenaikan angkutan logistik dan pelemahan nilai tukar rupiah juga meningkatkan harga berbagai kebutuhan masyarakat, termasuk sejumlah komoditas pangan.
Inflasi Inti Ikut Meningkat
Selain inflasi umum, inflasi inti (inflasi inti) yang tidak memasukkan komponen harga pangan bergejolak dan harga yang diatur pemerintah juga mengalami kenaikan.
BPS mencatat inflasi inti pada Juni mencapai 2,76 persen, meningkat dari 2,59 persen pada bulan sebelumnya. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan perkiraan analis yang memperkirakan inflasi inti berada di level 2,61 persen.
Peningkatan inflasi mencerminkan bahwa tekanan harga tidak hanya berasal dari faktor musiman atau komoditas tertentu, tetapi juga mulai terjadi pada kelompok barang dan jasa yang lebih luas. Kondisi ini menjadi salah satu indikator yang terus dipantau oleh Bank Indonesia dalam menentukan arah kebijakan moneter.
Bank Indonesia Diperkirakan Tetap Waspada
Sejumlah ekonom yang menilai kenaikan inflasi membuat ruang bagi Bank Indonesia untuk kebijakan moneter menjadi semakin terbatas.
Ekonom Bank Permata, Faisal Rachman, mengatakan kemungkinan kenaikan suku bunga acuan masih terbuka jika tekanan inflasi kembali meningkat atau kondisi eksternal memburuk. Meski demikian, skenario dasar masih memperkirakan BI akan mempertahankan suku bunga acuannya pada level 5,75 persen, mengingat kenaikan suku bunga yang dilakukan sebelumnya dinilai telah mengantisipasi potensi pengetatan kebijakan moneter Amerika Serikat pada akhir tahun.
Sepanjang Juni, Bank Indonesia telah menaikkan suku bunga acuan sebesar dua kali, termasuk satu kenaikan di luar jadwal (off-cycle), dengan total kenaikan mencapai 100 basis poin sejak pertengahan Mei. Langkah tersebut dilakukan untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah yang sempat menyentuh rekor terendah terhadap dolar Amerika Serikat sekaligus mengendalikan tekanan inflasi.
Ancaman El Nino Masih Membayangi
Bank Indonesia sebelumnya telah mengingatkan bahwa tekanan inflasi masih berpotensi meningkat pada paruh kedua tahun ini. Salah satu faktor yang menjadi perhatian adalah dampak fenomena El Nino yang diperkirakan dapat mengganggu produksi pangan dan memicu kenaikan harga bahan makanan.
Meski demikian, bank sentral tetap optimistis inflasi secara keseluruhan masih dapat dijaga agar tetap berada dalam kisaran target sepanjang tahun melalui kombinasi kebijakan moneter, stabilisasi nilai tukar rupiah, serta koordinasi dengan pemerintah dalam menjaga pasokan pangan.
Pasar Menanti Data Ekonomi Lainnya
Selain data inflasi, pelaku pasar juga mencermati perkembangan indikator ekonomi lainnya, termasuk data perdagangan Indonesia. Kondisi inflasi, pergerakan nilai tukar rupiah, harga energi global, dan dinamika ekonomi internasional akan menjadi faktor penting yang mempengaruhi kebijakan Bank Indonesia dalam beberapa bulan mendatang.
Para analis menilai, apabila tekanan harga terus meningkat di tengah perekonomian global, bank sentral kemungkinan akan tetap mempertahankan kebijakan moneter yang ketat guna menjaga stabilitas harga dan memperkuat kepercayaan pasar terhadap perekonomian nasional.
Sumber: Reuters
