Jakarta – Pemerintah Indonesia membuka peluang untuk mengekspor telur ayam konsumsi ke Singapura sebagai upaya mengatasi melimpahnya produksi dalam negeri yang menyebabkan harga telur di tingkat peternak terus mengalami penurunan. Langkah ini diharapkan dapat menyerap kelebihan pasokan sekaligus membantu menstabilkan harga di pasar domestik.
Harga Telur Tertekan Akibat Surplus Produksi
Menteri Perdagangan Budi Santoso menjelaskan bahwa produksi telur dan daging ayam saat ini berada dalam kondisi surplus. Melimpahnya pasokan membuat harga jual di pasar turun, sehingga pemerintah mencari pasar alternatif melalui jalur ekspor.
Menurutnya, Singapura menjadi salah satu negara yang dinilai memiliki potensi sebagai tujuan ekspor karena kebutuhan pangannya masih banyak dipenuhi dari impor.
Masih Mencari Pembeli
Pemerintah menyatakan proses ekspor masih berada pada tahap penjajakan. Saat ini, Kementerian Perdagangan tengah berupaya mencari calon pembeli di Singapura. Setelah ada kesepakatan dengan importir, pemerintah akan mempertemukan mereka dengan produsen telur di Indonesia agar ekspor dapat segera direalisasikan.
Program MBG Ikut Pengaruhi Permintaan
Selain dipicu oleh surplus produksi, penurunan harga telur juga dipengaruhi oleh berkurangnya penyerapan selama Program Makan Bergizi Gratis (MBG) diliburkan. Berkurangnya permintaan dari program tersebut membuat pasokan di pasar domestik semakin berlimpah dan berdampak pada penurunan harga di tingkat peternak.
Diharapkan Bantu Peternak
Pemerintah berharap pembukaan pasar ekspor dapat menjadi solusi bagi peternak yang terdampak anjloknya harga telur. Selain meningkatkan nilai jual produk unggas nasional, ekspor juga diharapkan mampu menjaga keseimbangan antara produksi dan permintaan sehingga harga kembali stabil.
Langkah ini menjadi bagian dari upaya pemerintah memperluas akses pasar bagi produk peternakan Indonesia sekaligus meningkatkan daya saing komoditas unggas di pasar internasional.
Sumber: CNN Indonesia